Menakar Kembali Kasta Guru

Ada murid yang berani meledek guru dan mengguyonkan mereka sesuka hati, bahkan di hadapan para gurunya sendiri. sekarang murid seperti itu ternyata telah mainstream.

Ribuan tahun yang lalu, sistem kasta pernah berlaku dalam struktur masyarakat Indonesia. Susunan kasta tersebut menempatkan Brahmana sebagai kasta tertinggi, mereka terpandang bukan karena kekuasaannya, melainkan karena keluhuran ilmu dan pencapaian spiritualnya, sehingga dianggap sebagai kalangan yang paling dekat dengan dewata. Sementara di tempat kedua ada kasta ksatria yang merupakan golongan terpelajar dan terlatih, mereka adalah yang menjalankan roda pemerintahan dan urusan negara. Selanjutnya ada kasta Waisya yang merupakan para pedagang dan pekerja, terakhir adalah Sudra yang tidak lain adalah pengemis dan budak. Seandainya saja sistem tersebut masih berlaku hari ini, penulis ingin tahu di manakah letak kasta para guru. Continue reading “Menakar Kembali Kasta Guru”

Pertanyaan Yang Hanya Diajukan Guru TK

Entah bagaimana, saya kebetulan menjadi seorang pemateri di sebuah kampus di jurusan pendidikan PAUD. Kalau kamu tidak tahu itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini, atau lebih mudahnya, itu adalah jurusan pendidikan guru TK. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri dan mental untuk menghadapi calon-calon guru PAUD yang manis dan keibuan, tetapi yang tidak saya tahu ternyata kelas yang saya sambangi adalah kelas karyawan. Walhasil, yang saya hadapi adalah ibu-ibu betulan.

Mereka adalah guru-guru PAUD yang kuliah lagi untuk mendapatkan ijazah yang resmi sebagai guru, beberapa di antara mereka paruh baya, sehingga membuat saya tidak nyaman awalnya. Bukan karena mereka sudah tidak muda, tetapi karena saya merasa saya terlalu muda untuk menguliahi mereka. Secara pengalaman tentulah saya kalah jauh, untungnya tema hari itu cukup sederhana dan saya yakin sedikit lebih jago dari mereka.

Intinya panitia ingin saya presentasi soal literasi anak dan komunitas yang saya dirikan bersama kawan-kawan. Saya kira, ibu-ibu yang kuliah ini akan mengantuk ketika saya menjelaskan, di luar dugaan, ternyata bersama ibu-ibu itu menjadi hari yang menyenangkan. Mereka semua antusias dan kelihatannya agak terpukau dengan kemampuan membual saya. Biasalah, sepik sepik sedikit.

Sesudah saya cerita ngalor ngidul, tiba waktunya Q and A, tanya jawab suka-suka. Pertanyaannya aneh-aneh dan kelihatannya saya butuh kontemplasi untuk menjawab itu semua.

#1

Bagaimana ya caranya supaya memberi tahu orang tua bahwa anak TK itu ga harus bisa calistung dulu?

Bilang sama orang tuanya, dulu juga mereka susah belajar calistung, sekarang seenaknya nyuruh-nyuruh anaknya.

#2

Bagaimana ya supaya anak saya bisa tumbuh rasa percaya dirinya?

Duh, saya belum punya anak bu.

#3

Apa sebab di TK tempat saya ngajar muridnya sedikit terus?

Err…..

#4

Anak saya agak cuek soal pelajarannya di sekolah, harus saya biarin atau bagaimana ya?

Percayalah bu, anak seperti itu biasanya nanti jadi orang kaya.

Semua jawaban dicetak miring itu tentu saja merupakan jawaban saya di dalam hati, sebisa mungkin saya menjawab pertanyaan mereka melalui pengalaman dan hasil penelitian. Bukan karena ingin keren, lebih supaya mereka merasa saya ini tidak ngasal. Tetapi, saya merasa itu semua adalah pertanyaan yang harus diajukan seorang guru TK, bagi guru TK tidak ada yang lebih penting dari memikirkan anak-anak. Di atas semua itu, mereka juga harus tetap menjadi seperti anak-anak, penuh kejutan dan senang bermain. Karena akan membosankan jika seorang anak ketika ia dewasa seseorang bertanya kepadanya, “Apa keahlianmu?”

Ia jawab, “Mengerjakan soal pelajaran.”

Saya merasa senang hadir bersama-sama mereka, jaya selalu para guru TK! Panggung itu bukan hanya milik Kak Seto seorang. Terakhir, sebelum saya pulang mereka menyanyikan lagu,

“Terima kasih bapak….Terima kasih bapak….Terima kasih kami ucapkan……dst.”