Sejarah Yang Selalu Lambat dalam Berulang

Wahai manusia, selamanya kita, dan tidak mungkin tidak, akan selalu terhubung dengan alam semesta. Kita adalah bagian kecil di dalamnya, namun kita selalu memberikan pengaruh kepada tempat di mana kita berpijak. Pernah mendengar tentang hukum Newton yang ketiga? Di mana energi yang kita berikan terhadap sesuatu akan kembali lagi kepada kita dengan takaran yang sama. Itu sudah menjadi ketetapan alam, pergerakan yang melingkar, yang kembali kepada asalnya, karma.

Apabila selama hidup yang kita tanam adalah kebaikan, maka tidak akan ada hal lain yang akan tumbuh selain hal itu juga. Sebaliknya, jika keburukan yang kita perbuat, tidak perlu menanyakan dari mana kebaikan akan datang. Manusia hidup tidak lama dibanding panjangnya perjalanan alam raya, satu generasi kehidupan manusia pun mungkin tidak nampak sebagai satu titik dalam rentang kronologis keberadaan alam semesta.

Maka kiranya tidak ada salahnya untuk memilih berbuat kebaikan selama hidup di usia yang pendek ini. Dengan begitu, setidaknya alam raya juga akan memberikan kebaikan-kebaikan kepada kita semua yang hanya manusia ini. Semakin banyak kita mencintai, semakin lekat pula alam mencintai kita. Semakin pekat kita membenci, maka tidak akan ada belas kasihan juga dari alam ini.

Negeri ini, bumiku, bumi Indonesia, bumi manusia kata Pram, sedang berada pada titik janggal dalam menciptakan keseimbangannya dengan alam. Selalu setiap doa para pejabat atau kyai, atau ulama dan orang suci meminta keselamatan negeri ini, tetapi segala perbuatan manusianya justru mengundang kerusakan di dalamnya. Jika setiap manusia sesuka hati mencela, menghardik, menghina-dinakan saudaranya sendiri, apakah alam raya hanya akan diam dan bermanis manja kepada kita.

Setiap perbuatan yang kita lakukan akan memancarkan frekuensi tertentu, frekuensi tersebut kemudian ditangkap oleh alam, dan kembali kepada kita dalam wujud yang lain tetapi masih mengandung frekuensi yang sama. Gempa lombok mungkin salah satu bentuk ketidak-betahan alam dalam menanggapi frekuensi-frekuensi kebencian manusia. Memang, kebencian manusia Indonesia sekarang sudah dalam tahap stadium tiga menuju empat, orang sudah tidak merasa malu atau kagok lagi untuk saling hantam lewat jempol di media sosial.

Kebencian-kebencian itu mengarah kepada tindakan-tindakan yang sama sekali irasional, kasus Ibu Meiliana adalah salah satu bentuk nyata soal itu. Sejak kapan manusia lupa untuk saling memaklumi dan bertenggang rasa. Obrolan di teras rumah tak perlu dibawa ke meja hijau, kecuali jika setiap orang sudah kehilangan kemampuan berbicara dan membujuk, sampai harus palu hakim yang turun tangan.

Sikap-sikap irasional itu yang mengarah pada penyimpangan-penyimpangan yang lain. Kebencian manusia Indonesia sekarang terlampau kental, bahkan manusia rela menuhankan sesama manusia untuk membela apa yang dianggapnya benar. Tidak ada yang benar bagi pendukung Prabowo segala hal yang dilakukan oleh Jokowi, begitu juga sebaliknya. Kegelapan ini akan terus berlanjut sampai entah di mana akhirnya.

Pada akhirnya, alam akan merasa manusia hanya terus mengirimkan frekuensi-frekuensi kebencian. Secuil pun mungkin alam tidak peduli, tetapi ia memang memikul tugas untuk memberikan konsekuensi yang jelas terhadap tindak laku para manusia yang mendiaminya. Karena apabila tidak ia terpaksa harus menyeimbangkan dirinya, dan selama alam berusaha untuk menyeimbangkan dirinya, manusia akan terus menerus merasakan ketidak-nyamanan. Itu akan berakhir sampai manusia lebih mengutamakan cinta di atas kebencian yang menghancurkan. Namun, seperti layaknya kisah-kisah anak Adam yang bergulir dalam sejarah, semua upaya itu biasanya datang terlambat.

 

Indonesian Ways of Diet

If you have ever been to Indonesia, you will hardly find an obese or even a fat Indonesian, especially in the villages. They might not have a solid posture or a well-shaped body, but you will realize they are not sluggish or overweight. You may have many definitions about being healthy, but I believe Indonesians are much way healthier than most people in modern countries.

Forget the people in Jakarta or any big cities in Indonesia who Continue reading “Indonesian Ways of Diet”