Samsara

Ki Sapu Jagad sedang duduk bersama murid-muridnya, mereka sedang berkemah di pinggir sungai. Langit bersih dan sunyi, cahaya bulan terpantul di riak yang tenang, mereka sedang menikmati api unggun seadanya sambil membakar ikan. Salah seorang murid yang bernama Wulung bertanya, “wahai guru, mengapa manusia menderita? Sejak awal, kami tidak pernah meminta untuk dilahirkan.”

Ki Sapu Jagad memandangnya, kemudian mengalihkan pandangan lagi ke api unggun dan mulai membolak-balikan beberapa kayu bakar. Setelah itu ia menatap Wulung kembali, “Siapa bilang kita tidak meminta untuk dilahirkan, apa kau punya pengetahuan yang pasti bahwa kita tidak pernah memintanya?”

Wulung terdiam, berpikir sebentar kemudian berkata lagi, “tetapi kita juga tidak punya kepastian bahwa kita memintanya.”

Ki Sapu Jagad memasukkan kembali kayu bakar ke dalam api, “itulah mengapa aku membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan lagi. Apa kau tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain kisanak?”

“Seperti apa misalnya guru?”

“Misalnya, bagaimana kalau sebelum kehidupan yang kita kenal ini, kita pernah hidup di zaman yang lain di dunia yang lain, kemudian bersepakat untuk lahir ke dunia bersama-sama. Atau bagaimana jika kita dahulu hidup sebagai orang lain, kemudian terlahir lagi tanpa ingatan yang utuh atas diri kita di masa lalu. Atau jangan-jangan sebetulnya adanya kita di dunia ini hanyalah kebetulan belaka, kita lahir dari ibu kita, mengantre menunggu ajal menjemput.”

“Aku bingung guru, sebetulnya apa yang ingin guru katakan.”

“Bukan apa-apa kisanak, yang jelas, semua yang kita anggap pengetahuan di dunia ini mungkin hanya persangkaan masing-masing yang belum lengkap. Kau boleh menganggap kehidupan ini bukanlah yang kau hendaki, tetapi penderitaan hanya ada di dalam pikiran, di luar itu, kehidupan memang terjadi sesuai yang alam ingini untuk mencapai keseimbangan.”

Ikan sudah matang, beberapa murid yang tidak ikut berdiskusi mulai mengambil satu ekor masing-masing dan meniup-niupnya karena terlalu panas.

“Kalau begitu, apakah suatu saat penderitaanku akan berakhir demi sebuah keseimbangan guru?”

“Itu lah permasalahanmu kisanak, kau selalu berpengharapan, kau berkeinginan terhadap sesuatu yang belum atau bahkan tidak terjadi. Kau tidak hidup pada saat ini, pada masa ini, pada tempat ini, pada orang-orang ini. Selamanya kau harus sadar pada apa yang sedang kau lakukan, pada apa yang sedang kau rasakan. Jika tidak, sang Kala akan menggerogotimu tanpa peringatan, hingga kau akhirnya mati dalam kebingungan.”

Wulung hendak memberikan pertanyaan lanjutan tetapi Ki Sapu Jagad menyela sambil mengangkat tangan, “Makan dulu ikanmu, itu sudah terlalu matang.”

 

ARGUMENTUM

Suatu hari Cak Nun pernah mengatakan bahwa “Menulis bukanlah sebuah pekerjaan, menulis adalah salah satu bentuk ekspresi keberadaan manusia.”

Sudah sejak lama saya berhenti menulis dengan tujuan untuk menginspirasi orang lain. Sudah sejak lama juga saya berhenti menulis karena terpengaruh oleh hal-hal di luar dari diri saya.

Akibatnya, saya menulis sesuka-sukanya saya, menulis tanpa Continue reading “ARGUMENTUM”