Membaca Ibn Khaldun: Manusia Supranatural

Saya menyempatkan diri untuk membaca magnum opus-nya Ibn Khaldun yang berjudul asli Al Muqaddimah, atau artinya: Pendahuluan. Tentu saja saya tidak membaca teks tersebut dalam bahasa aslinya, saya hanya membaca terjemahan berbahasa Inggrisnya yang diterjemahkan oleh Franz Rosenthal dengan judul The Introduction. Sejauh yang saya tahu tentang Ibn Khaldun, ia adalah seorang pionir ilmu sosial modern dan dianggap sebagai salah satu yang paling berpengaruh di dunia. Sayangnya, ilmu sosial ini tidak dianggap begitu penting dan utama oleh banyak orang. Lihat saja stigma yang diberikan kepada anak jurusan IPS di sekolah-sekolah, mereka seringkali dianggap sebagai sumber berandalan.

Awalnya saya pun demikian, saya tidak menganggap ilmu sosial sebagai suatu ilmu yang luhur, tetapi setelah kuliah di jurusan sosial, saya menemukan fakta yang sebaliknya. Meskipun tidak banyak yang tahu, tetapi ilmu sosial jauh lebih luas dan lebih cair dalam memasuki dunia manusia sehari-hari. Ilmu alam atau turunannya yang bersifat teknikal membantu manusia menerjemahkan fenomena di luar dirinya dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tetapi ilmu sosial berusaha mengkaji bagaimana manusia berpikir dalam mengatasi masalah, bahkan berpikir tentang cara mengidentifikasi masalah. Misal, manusia belajar membuat mobil agar bisa menempuh perjalanan jauh, itu adalah bagian dari pengetahuan teknis. Tetapi mempelajari perilaku pengguna mobil, efek samping dari memiliki mobil bagi masyarakat, bagaimana berkendara agar tidak terjadi kecelakaan di jalan, serta pembuatan aturannya, itu adalah wilayah ilmu sosial.

Setelah membaca Ibn Khaldun, saya bisa melihat bagaimana beliau sama sekali tidak memisahkan antara ilmu alam dan ilmu sosial, seolah kedua hal itu tidak pernah ada, dan yang ada hanyalah ilmu saja. Ibn Khaldun menjelaskan mengenai planet Bumi terlebih dahulu di dalam Al Muqaddimah, kemudian unsur-unsur yang terkandung di dalam Bumi, sampai kepada manusia dan perilakunya. Manusia dan alam tidak memiliki sekat yang tebal, justru sebaliknya, keduanya ada, tumbuh untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan inilah yang dibahasa Ibn Khaldun di dalam kitabnya ini.

Saya mungkin (kalau tidak malas dan ngantuk) ingin menuliskan yang saya pelajari dalam kitab itu di sini, tetapi mungkin dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian agar tidak bosan bagi yang membaca. Saya juga akan membahasnya secara random dan tidak berurutan, mohon maklum, karena saya juga tidak punya kewajiban untuk menulis dengan kebenaran.

Ada satu subbab yang cukup menarik perhatian saya, subbab itu berjudul “The various types of human beings who have supernatural perception either through natural disposition or through exercise, preceded by a discussion of inspiration and dream visions”. Atau jika diterjemahkan secara bebas artinya adalah: “Macam-macam manusia yang memiliki pengetahuan supranatural, baik karena bakat alam maupun latihan, didahului oleh diskusi dalam inspirasi dan wangsit”.

Hal ini menarik karena dunia keilmuan modern tidak pernah menganggap hal-hal berbau supernatural sebagai sesuatu yang ilmiah. Padahal pengertian ilmiah juga masih sangat bisa diperdebatkan. Jika ada orang yang bisa menyembuhkan penyakit orang lain hanya dengan meniup ubun-ubunnya, atau mendatangkan hujan dengan duduk bersila dan memejamkan mata, itu tidak akan dianggap sebagai fenomena sains. Peristiwa seperti itu hanya akan dianggap sebagai peristiwa mistis dan klenik. Anehnya klaim itu didapat bukan karena peristiwanya yang salah, melainkan ketidakmampuan membuktikan kebenarannya.

Dalam pendapat Ibn Khaldun, dunia ini dipenuhi persepsi yang disebabkan oleh panca indera. Namun begitu, dunia yang diciptakan ini tidak sebatas apa yang orang persepsikan, ada dimensi-dimensi yang hanya bisa disentuh oleh orang-orang tertentu. Teori yang pertama, orang-orang tertentu itu adalah pilihan Tuhan, mereka yang secara default diberikan “akses” untuk menembus dimensi-dimensi tersebut. Tugas mereka memang menjadi wakil-wakil Tuhan setelah para Nabi, karena setelah kenabian ditutup, Tuhan tetap mengirimkan wakil-wakil untuk bisa mengetahui tentang-Nya.

Saya tidak terlalu tertarik membahas bagian tersebut, karena itu sesuatu yang cukup sulit untuk diperdebatkan seiring hubungannya dengan keimanan. Saya lebih tertarik membahas jenis yang kedua, yaitu orang-orang yang mendapatkan kekuatan supernatural melalui latihan. Atau dalam tradisi sufi disebut sebagai tirakat, atau laku latihan di luar kebiasaan yang terus menerus diulang-ulang.

Menurut Ibn Khaldun, jiwa manusia pada dasarnya terhubung kepada tubuhnya sendiri, dan kepada “langit”. Ketika terhubung dengan tubuhnya, manusia memperkuat kemampuan sensornya, segala yang bisa dicapai dengan indranya, sehingga kemampuan berpikir rasionalnya pun semakin tinggi. Orang yang lebih peka dalam berpikir memiliki keutuhan jiwa yang benar-benar terkoneksi dengan tubuhnya sendiri. Sesuatu yang seringkali kebanyakan manusia abai, seperti memperhatikan detak jantung sendiri, atau mendengarkan aliran nafas sendiri.

Pada sisi yang lain, manusia juga kadang terhubung dengan dimensi “langitan”, cerita-cerita dalam dunia sufi misalnya, bisa terdengar tidak masuk akal. Itu karena memang bukan akal yang sedang digunakan, melainkan sesuatu yang lebih halus, sesuatu yang benar-benar diabaikan dalam dunia modern. Itu adalah indra yang berada di luar dari indra yang lima, pembahasan inilah yang saya akan coba uraikan dalam beberapa tulisan. Post ini hanya akan menjadi pengantar untuk tulisan-tulisan saya yang berikutnya mengenai manusia supernatural dalam pandangan Ibn Khaldun.

Pertanyaan Yang Hanya Diajukan Guru TK

Entah bagaimana, saya kebetulan menjadi seorang pemateri di sebuah kampus di jurusan pendidikan PAUD. Kalau kamu tidak tahu itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini, atau lebih mudahnya, itu adalah jurusan pendidikan guru TK. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri dan mental untuk menghadapi calon-calon guru PAUD yang manis dan keibuan, tetapi yang tidak saya tahu ternyata kelas yang saya sambangi adalah kelas karyawan. Walhasil, yang saya hadapi adalah ibu-ibu betulan.

Mereka adalah guru-guru PAUD yang kuliah lagi untuk mendapatkan ijazah yang resmi sebagai guru, beberapa di antara mereka paruh baya, sehingga membuat saya tidak nyaman awalnya. Bukan karena mereka sudah tidak muda, tetapi karena saya merasa saya terlalu muda untuk menguliahi mereka. Secara pengalaman tentulah saya kalah jauh, untungnya tema hari itu cukup sederhana dan saya yakin sedikit lebih jago dari mereka.

Intinya panitia ingin saya presentasi soal literasi anak dan komunitas yang saya dirikan bersama kawan-kawan. Saya kira, ibu-ibu yang kuliah ini akan mengantuk ketika saya menjelaskan, di luar dugaan, ternyata bersama ibu-ibu itu menjadi hari yang menyenangkan. Mereka semua antusias dan kelihatannya agak terpukau dengan kemampuan membual saya. Biasalah, sepik sepik sedikit.

Sesudah saya cerita ngalor ngidul, tiba waktunya Q and A, tanya jawab suka-suka. Pertanyaannya aneh-aneh dan kelihatannya saya butuh kontemplasi untuk menjawab itu semua.

#1

Bagaimana ya caranya supaya memberi tahu orang tua bahwa anak TK itu ga harus bisa calistung dulu?

Bilang sama orang tuanya, dulu juga mereka susah belajar calistung, sekarang seenaknya nyuruh-nyuruh anaknya.

#2

Bagaimana ya supaya anak saya bisa tumbuh rasa percaya dirinya?

Duh, saya belum punya anak bu.

#3

Apa sebab di TK tempat saya ngajar muridnya sedikit terus?

Err…..

#4

Anak saya agak cuek soal pelajarannya di sekolah, harus saya biarin atau bagaimana ya?

Percayalah bu, anak seperti itu biasanya nanti jadi orang kaya.

Semua jawaban dicetak miring itu tentu saja merupakan jawaban saya di dalam hati, sebisa mungkin saya menjawab pertanyaan mereka melalui pengalaman dan hasil penelitian. Bukan karena ingin keren, lebih supaya mereka merasa saya ini tidak ngasal. Tetapi, saya merasa itu semua adalah pertanyaan yang harus diajukan seorang guru TK, bagi guru TK tidak ada yang lebih penting dari memikirkan anak-anak. Di atas semua itu, mereka juga harus tetap menjadi seperti anak-anak, penuh kejutan dan senang bermain. Karena akan membosankan jika seorang anak ketika ia dewasa seseorang bertanya kepadanya, “Apa keahlianmu?”

Ia jawab, “Mengerjakan soal pelajaran.”

Saya merasa senang hadir bersama-sama mereka, jaya selalu para guru TK! Panggung itu bukan hanya milik Kak Seto seorang. Terakhir, sebelum saya pulang mereka menyanyikan lagu,

“Terima kasih bapak….Terima kasih bapak….Terima kasih kami ucapkan……dst.”

Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean

Apa kamu pernah melihat seseorang yang sebetulnya inkompeten tetapi punya rasa percaya diri yang sangat super. Atau melihat seseorang yang tidak punya pengetahuan tentang suatu hal, tapi bicara paling vokal dan berani tentang hal tersebut? Yap, kita pasti kenal seseorang seperti itu di lingkaran pergaulan kita, dan kita juga sepakat bahwa orang-orang semacam ini adalah Continue reading “Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean”

JADILAH ANAK NAKAL DI SEKOLAH

Suatu hari Robert Kiyosaki pernah berujar, “’A’ students will work for ‘C’ students. ‘B’ students will work for the government. And ‘D’ students will be politicians.”

Menurut adagiumnya mbah Robert itu, anak-anak yang sewaktu sekolah nilainya ‘A’ akan bekerja untuk anak-anak yang nilainya ‘C’. Sementara anak-anak yang nilainya ‘B’ akan jadi PNS, dan anak-anak sableng yang nilainya ‘D’ itu akan jadi Continue reading “JADILAH ANAK NAKAL DI SEKOLAH”