Iwan Tidak Ingin Jadi PNS

Suatu sore Iwan datang menemui gurunya, di samping kesibukannya sebagai pengecer jasa desain grafis, Iwan juga menekuni sebuah tarekat tertentu bersama beberapa orang di sekitar rumahnya.  Ketika Iwan menghadapi suatu persoalan ia sowan ke gurunya, ketika menghadapi kesulitan atau keluhan ia juga datang menghadap gurunya, atau jika hanya sekedar ingin Continue reading “Iwan Tidak Ingin Jadi PNS”

Jabang Bayi

Bagi bayi-bayi dalam kandungan yang tidak sempat terlahirkan, mungkin itu adalah nasib terbaik yang mereka alami karena mereka tidak perlu gedebugan di dunia. Tetapi bagi ibu yang mengandungnya, ia seperti kehilangan sebagian nyawanya sendiri.

Nafsu Menginjak Sandal

Setiap melaksanakan tarawih, setiap orang selalu berusaha menjadi lebih khusyuk di dalam salatnya. Sebelum salat, biasanya seorang ustad akan memberikan tausiyah mengenai pentingnya mengendalikan hawa nafsu ketika bulan Ramadan. Tidak seperti khutbah Jum’at yang menjadi obat tidur bagi mereka yang insomnia, tausiyah saat tarawih biasanya lebih didengarkan karena durasinya lebih pendek.

Seyogianya, sebagai umat muslim yang baik, kita mesti meresapi apa yang disampaikan oleh ustad dan kemudian mengamalkannya, termasuk saya. Tetapi mungkin saya pun ada bodohnya karena mengira semua orang ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh ustad. Ketika keluar dari masjid saya merasa saya harus mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadi manusia egois. Termasuk ketika hendak mengambil sandal, sandal yang berantakan di depan teras masjid itu memang tidak ditata, tetapi semua sandal itu pasti ada yang memiliki.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk mengambil sandal saya tanpa menginjak sandal yang lain. Karena saking hati-hatinya saya tidak bisa bergerak sembarangan, akan tetapi, sekonyong-konyong orang-orang di belakang saya langsung menceburkan kakinya ke dalam lautan sandal tanpa tedeng aling-aling. Otomatis, sandal yang sejak awal tidak rapi itu sekarang menjadi berantakan tidak karuan.

Saya yang berhati-hati agar tidak menginjak sandal orang ini serasa sedang dikhianati oleh orang-orang yang berusaha saya jaga sandalnya. Sejurus kemudian, saya melihat swallow hijau saya pun tidak luput dari injakan kaki-kaki biadab itu, beberapa dari mereka sudah memakai sandal untuk menginjak sandal saya. Manusia benar-benar makhluk yang egois, mereka ingin mengambil sandal mereka sendiri dengan tega menginjak dan menyingkirkan sandal milik orang lain. Sejak hari itu, saya selalu membungkus sandal swallow saya dengan kresek yang saya bawa dari rumah.

Samsara

Ki Sapu Jagad sedang duduk bersama murid-muridnya, mereka sedang berkemah di pinggir sungai. Langit bersih dan sunyi, cahaya bulan terpantul di riak yang tenang, mereka sedang menikmati api unggun seadanya sambil membakar ikan. Salah seorang murid yang bernama Wulung bertanya, “wahai guru, mengapa manusia menderita? Sejak awal, kami tidak pernah meminta untuk dilahirkan.”

Ki Sapu Jagad memandangnya, kemudian mengalihkan pandangan lagi ke api unggun dan mulai membolak-balikan beberapa kayu bakar. Setelah itu ia menatap Wulung kembali, “Siapa bilang kita tidak meminta untuk dilahirkan, apa kau punya pengetahuan yang pasti bahwa kita tidak pernah memintanya?”

Wulung terdiam, berpikir sebentar kemudian berkata lagi, “tetapi kita juga tidak punya kepastian bahwa kita memintanya.”

Ki Sapu Jagad memasukkan kembali kayu bakar ke dalam api, “itulah mengapa aku membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan lagi. Apa kau tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain kisanak?”

“Seperti apa misalnya guru?”

“Misalnya, bagaimana kalau sebelum kehidupan yang kita kenal ini, kita pernah hidup di zaman yang lain di dunia yang lain, kemudian bersepakat untuk lahir ke dunia bersama-sama. Atau bagaimana jika kita dahulu hidup sebagai orang lain, kemudian terlahir lagi tanpa ingatan yang utuh atas diri kita di masa lalu. Atau jangan-jangan sebetulnya adanya kita di dunia ini hanyalah kebetulan belaka, kita lahir dari ibu kita, mengantre menunggu ajal menjemput.”

“Aku bingung guru, sebetulnya apa yang ingin guru katakan.”

“Bukan apa-apa kisanak, yang jelas, semua yang kita anggap pengetahuan di dunia ini mungkin hanya persangkaan masing-masing yang belum lengkap. Kau boleh menganggap kehidupan ini bukanlah yang kau hendaki, tetapi penderitaan hanya ada di dalam pikiran, di luar itu, kehidupan memang terjadi sesuai yang alam ingini untuk mencapai keseimbangan.”

Ikan sudah matang, beberapa murid yang tidak ikut berdiskusi mulai mengambil satu ekor masing-masing dan meniup-niupnya karena terlalu panas.

“Kalau begitu, apakah suatu saat penderitaanku akan berakhir demi sebuah keseimbangan guru?”

“Itu lah permasalahanmu kisanak, kau selalu berpengharapan, kau berkeinginan terhadap sesuatu yang belum atau bahkan tidak terjadi. Kau tidak hidup pada saat ini, pada masa ini, pada tempat ini, pada orang-orang ini. Selamanya kau harus sadar pada apa yang sedang kau lakukan, pada apa yang sedang kau rasakan. Jika tidak, sang Kala akan menggerogotimu tanpa peringatan, hingga kau akhirnya mati dalam kebingungan.”

Wulung hendak memberikan pertanyaan lanjutan tetapi Ki Sapu Jagad menyela sambil mengangkat tangan, “Makan dulu ikanmu, itu sudah terlalu matang.”

 

AGAMA DAN POLITIK ADALAH FANA, PISANG GORENG ABADI

Saya agak lupa, waktu itu mungkin juga sekitar bulan Desember yang dingin. Angin bertiup cukup kencang di kota Birmingham, membuat saya malas pergi ke luar rumah tetapi harus. Ketika itulah saya selalu merasa bersyukur kepada orang-orang yang sudah dengan baik hati membuat mantel dan syal agar tidak membuat kami dingin dan sepi.

Ketika itu saya sedang berjalan menuruni tangga bersama Continue reading “AGAMA DAN POLITIK ADALAH FANA, PISANG GORENG ABADI”

ARGUMENTUM

Suatu hari Cak Nun pernah mengatakan bahwa “Menulis bukanlah sebuah pekerjaan, menulis adalah salah satu bentuk ekspresi keberadaan manusia.”

Sudah sejak lama saya berhenti menulis dengan tujuan untuk menginspirasi orang lain. Sudah sejak lama juga saya berhenti menulis karena terpengaruh oleh hal-hal di luar dari diri saya.

Akibatnya, saya menulis sesuka-sukanya saya, menulis tanpa Continue reading “ARGUMENTUM”