Menakar Kembali Kasta Guru

Ada murid yang berani meledek guru dan mengguyonkan mereka sesuka hati, bahkan di hadapan para gurunya sendiri. sekarang murid seperti itu ternyata telah mainstream.

Ribuan tahun yang lalu, sistem kasta pernah berlaku dalam struktur masyarakat Indonesia. Susunan kasta tersebut menempatkan Brahmana sebagai kasta tertinggi, mereka terpandang bukan karena kekuasaannya, melainkan karena keluhuran ilmu dan pencapaian spiritualnya, sehingga dianggap sebagai kalangan yang paling dekat dengan dewata. Sementara di tempat kedua ada kasta ksatria yang merupakan golongan terpelajar dan terlatih, mereka adalah yang menjalankan roda pemerintahan dan urusan negara. Selanjutnya ada kasta Waisya yang merupakan para pedagang dan pekerja, terakhir adalah Sudra yang tidak lain adalah pengemis dan budak. Seandainya saja sistem tersebut masih berlaku hari ini, penulis ingin tahu di manakah letak kasta para guru. Continue reading “Menakar Kembali Kasta Guru”

Sejarah Yang Selalu Lambat dalam Berulang

Wahai manusia, selamanya kita, dan tidak mungkin tidak, akan selalu terhubung dengan alam semesta. Kita adalah bagian kecil di dalamnya, namun kita selalu memberikan pengaruh kepada tempat di mana kita berpijak. Pernah mendengar tentang hukum Newton yang ketiga? Di mana energi yang kita berikan terhadap sesuatu akan kembali lagi kepada kita dengan takaran yang sama. Itu sudah menjadi ketetapan alam, pergerakan yang melingkar, yang kembali kepada asalnya, karma.

Apabila selama hidup yang kita tanam adalah kebaikan, maka tidak akan ada hal lain yang akan tumbuh selain hal itu juga. Sebaliknya, jika keburukan yang kita perbuat, tidak perlu menanyakan dari mana kebaikan akan datang. Manusia hidup tidak lama dibanding panjangnya perjalanan alam raya, satu generasi kehidupan manusia pun mungkin tidak nampak sebagai satu titik dalam rentang kronologis keberadaan alam semesta.

Maka kiranya tidak ada salahnya untuk memilih berbuat kebaikan selama hidup di usia yang pendek ini. Dengan begitu, setidaknya alam raya juga akan memberikan kebaikan-kebaikan kepada kita semua yang hanya manusia ini. Semakin banyak kita mencintai, semakin lekat pula alam mencintai kita. Semakin pekat kita membenci, maka tidak akan ada belas kasihan juga dari alam ini.

Negeri ini, bumiku, bumi Indonesia, bumi manusia kata Pram, sedang berada pada titik janggal dalam menciptakan keseimbangannya dengan alam. Selalu setiap doa para pejabat atau kyai, atau ulama dan orang suci meminta keselamatan negeri ini, tetapi segala perbuatan manusianya justru mengundang kerusakan di dalamnya. Jika setiap manusia sesuka hati mencela, menghardik, menghina-dinakan saudaranya sendiri, apakah alam raya hanya akan diam dan bermanis manja kepada kita.

Setiap perbuatan yang kita lakukan akan memancarkan frekuensi tertentu, frekuensi tersebut kemudian ditangkap oleh alam, dan kembali kepada kita dalam wujud yang lain tetapi masih mengandung frekuensi yang sama. Gempa lombok mungkin salah satu bentuk ketidak-betahan alam dalam menanggapi frekuensi-frekuensi kebencian manusia. Memang, kebencian manusia Indonesia sekarang sudah dalam tahap stadium tiga menuju empat, orang sudah tidak merasa malu atau kagok lagi untuk saling hantam lewat jempol di media sosial.

Kebencian-kebencian itu mengarah kepada tindakan-tindakan yang sama sekali irasional, kasus Ibu Meiliana adalah salah satu bentuk nyata soal itu. Sejak kapan manusia lupa untuk saling memaklumi dan bertenggang rasa. Obrolan di teras rumah tak perlu dibawa ke meja hijau, kecuali jika setiap orang sudah kehilangan kemampuan berbicara dan membujuk, sampai harus palu hakim yang turun tangan.

Sikap-sikap irasional itu yang mengarah pada penyimpangan-penyimpangan yang lain. Kebencian manusia Indonesia sekarang terlampau kental, bahkan manusia rela menuhankan sesama manusia untuk membela apa yang dianggapnya benar. Tidak ada yang benar bagi pendukung Prabowo segala hal yang dilakukan oleh Jokowi, begitu juga sebaliknya. Kegelapan ini akan terus berlanjut sampai entah di mana akhirnya.

Pada akhirnya, alam akan merasa manusia hanya terus mengirimkan frekuensi-frekuensi kebencian. Secuil pun mungkin alam tidak peduli, tetapi ia memang memikul tugas untuk memberikan konsekuensi yang jelas terhadap tindak laku para manusia yang mendiaminya. Karena apabila tidak ia terpaksa harus menyeimbangkan dirinya, dan selama alam berusaha untuk menyeimbangkan dirinya, manusia akan terus menerus merasakan ketidak-nyamanan. Itu akan berakhir sampai manusia lebih mengutamakan cinta di atas kebencian yang menghancurkan. Namun, seperti layaknya kisah-kisah anak Adam yang bergulir dalam sejarah, semua upaya itu biasanya datang terlambat.

 

Jabang Bayi

Bagi bayi-bayi dalam kandungan yang tidak sempat terlahirkan, mungkin itu adalah nasib terbaik yang mereka alami karena mereka tidak perlu gedebugan di dunia. Tetapi bagi ibu yang mengandungnya, ia seperti kehilangan sebagian nyawanya sendiri.

Nafsu Menginjak Sandal

Setiap melaksanakan tarawih, setiap orang selalu berusaha menjadi lebih khusyuk di dalam salatnya. Sebelum salat, biasanya seorang ustad akan memberikan tausiyah mengenai pentingnya mengendalikan hawa nafsu ketika bulan Ramadan. Tidak seperti khutbah Jum’at yang menjadi obat tidur bagi mereka yang insomnia, tausiyah saat tarawih biasanya lebih didengarkan karena durasinya lebih pendek.

Seyogianya, sebagai umat muslim yang baik, kita mesti meresapi apa yang disampaikan oleh ustad dan kemudian mengamalkannya, termasuk saya. Tetapi mungkin saya pun ada bodohnya karena mengira semua orang ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh ustad. Ketika keluar dari masjid saya merasa saya harus mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadi manusia egois. Termasuk ketika hendak mengambil sandal, sandal yang berantakan di depan teras masjid itu memang tidak ditata, tetapi semua sandal itu pasti ada yang memiliki.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk mengambil sandal saya tanpa menginjak sandal yang lain. Karena saking hati-hatinya saya tidak bisa bergerak sembarangan, akan tetapi, sekonyong-konyong orang-orang di belakang saya langsung menceburkan kakinya ke dalam lautan sandal tanpa tedeng aling-aling. Otomatis, sandal yang sejak awal tidak rapi itu sekarang menjadi berantakan tidak karuan.

Saya yang berhati-hati agar tidak menginjak sandal orang ini serasa sedang dikhianati oleh orang-orang yang berusaha saya jaga sandalnya. Sejurus kemudian, saya melihat swallow hijau saya pun tidak luput dari injakan kaki-kaki biadab itu, beberapa dari mereka sudah memakai sandal untuk menginjak sandal saya. Manusia benar-benar makhluk yang egois, mereka ingin mengambil sandal mereka sendiri dengan tega menginjak dan menyingkirkan sandal milik orang lain. Sejak hari itu, saya selalu membungkus sandal swallow saya dengan kresek yang saya bawa dari rumah.