Cara Menjaga Pikiran Kita: Jauhi Gadget-mu di Awal Hari

Saya sangat berhati-hati dalam memberi asupan nutrisi pada pikiran saya, baik itu pengetahuan, berita, atau kabar-kabar lain yang saya dapat. Alasannya sederhana, setiap input yang masuk ke dalam kepala saya akan memengaruhi gelombang otak saya, dan gelombang otak saya akan memengaruhi perilaku saya. Apabila pikiran kita baik, maka baik pula perilaku kita, seperti yang dikatakan Sang Buddha; inti dari kehidupan adalah benar pikir dan juga benar perbuatan.

Seorang praktisi meditasi cum teknisi di Google, Chade Meng Tan mengatakan bahwa sebuah peristiwa buruk baru akan bisa terobati dengan tiga kali peristiwa baik. Hal ini setidaknya menunjukkan dua hal, pertama, betapa sulitnya kita menghilangkan hal negatif. Kedua, kita cenderung lebih responsif terhadap segala hal yang buruk. Akibatnya, kita menjadi lebih agresif dan cenderung berperilaku merusak di alam sadar kita.

Saya mengerti bahwa tidak mudah untuk menyingkirkan pikiran negatif, karena itu, sebisa mungkin saya menghindarinya. Saya melatih diri saya untuk tidak melihat handphone dalam satu jam pertama di dalam hari saya. Percaya atau tidak, itu sangat membantu! Gadget yang kita miliki cenderung menahan kita dari beraktivitas, lebih dari itu, gadget juga membiarkan kita untuk mengabaikan situasi di sekitar kita. Menurut saya, sadar seutuhnya di awal hari sangatlah penting, hal itu membantu membangun mood dan memberikan saya perasaan bahwa saya bisa menaklukkan hari itu.

Sumber: https://www.pexels.com/photo/women-s-white-top-and-orange-floral-skirt-823694/

Lebih dari itu, konten yang kita saksikan di dalam gadget itu juga sangat memengaruhi gelombang otak kita. Saya ambil contoh sederhana, jika pada hari minggu saya menonton pertandingan PERSIB Bandung, dan tim kesayangan saya itu kalah, maka hari Senin tampak kurang membahagiakan. Kemudian ketika Senin pagi tiba, saya membuka Twitter, dan saya menemukan berita atau tweet yang berhubungan dengan kekalahan PERSIB, tentunya, hal itu akan membuat Senin saya semakin runyam.

Itu baru soal PERSIB, belum masalah-masalah yang lain. Satu kali saja kita melihat konten negatif di linimasa kita, baik itu kebencian, kriminalitas, hoax, maka gelombang otak kita berubah menjadi agresif dan menjauh dari kesadaran. Melihat hal baik atau humor mungkin sedikit mengurangi efeknya, namun sayangnya, bhineka tunggal ika benar-benar berlaku dalam dunia medsos. Semua hal, baik itu positif atau negatif, bangsat atau kyai, bajingan atau orang saleh berbaur dan tinggal berdampingan.

Ini lebih gawat lagi, karena otak kita menjadi sangat terbiasa berpindah fokus dari pikiran positif dan negatif, akhirnya semua terlihat mirip bahkan sama. Semuanya terlihat menjadi hanya sebatas berita, sekilas info.

Kebiasaan saya menghindari membuka handphone di awal hari membuat saya memiliki penangkapan yang lebih jernih terhadap apa yang sedang terjadi. Saya lebih menghargai apa yang ada di hadapan saya, udara yang saya hirup di waktu Subuh, ibu-ibu yang saya lihat sedang menyapu halaman rumahnya, serta suara desis telur dadar yang dimasak istri saya. Saya bisa merasai semuanya, saya bisa memahami realitas yang terjadi, bahwa saya tiba di hari ini dengan selamat, dengan takdir dan berkah yang menunggu saya sepanjang hari.

Saya bisa melihat bahwa inilah diri saya yang sekarang, yang perlu bersyukur dan berbahagia atas apa yang dimiliki. Tidak ada debat pilpres dan agama, tidak ada selebgram, tidak ada hilih kintil, karena semua yang penting adalah semua yang sedang saya rasakan pada saat ini. Semua hal itu nyata, meski kata beberapa penyair ia fana, saya tidak peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *