Iwan Tidak Ingin Jadi PNS

Suatu sore Iwan datang menemui gurunya, di samping kesibukannya sebagai pengecer jasa desain grafis, Iwan juga menekuni sebuah tarekat tertentu bersama beberapa orang di sekitar rumahnya.  Ketika Iwan menghadapi suatu persoalan ia sowan ke gurunya, ketika menghadapi kesulitan atau keluhan ia juga datang menghadap gurunya, atau jika hanya sekedar ingin menikmati kopi dan rokok gratisan ia pun datang dengan alasan ingin mengobrol.

Tak jarang ia memang mendapatkan solusi dari gurunya tersebut, jika tidak, setidaknya gurunya seringkali berhasil menanamkan ketenangan di dalam perasaan Iwan. Sama seperti hari ini, ia pun datang menemui gurunya sepulang dari pertemuan dengan klien. Iwan bisa melihat gurunya itu tengah memberi makan ikan di kolam depan rumahnya. Segera Iwan masuk pekarangan kemudian duduk di teras rumah.

“Saya sedang kesal guru.” Tukas Iwan.

Gurunya bergeming, ia menggenggam makanan ikan yang terakhir dan menebarnya ke seluruh kolam.

“Kesal atau tidak itu caramu menanggapi sesuatu, Wan.” Gurunya kemudian duduk di kursi dan mulai menyalakan rokoknya.

“Saya kesal karena ibu saya ingin saya daftar PNS.” Kata Iwan

“Lah memang kenapa kalau jadi PNS?”

“Iya, kan sekarang teman-teman sedang ramai-ramai daftar jadi PNS, saya kesal karena saya disuruh-suruh ikut arus semacam itu.”

“Maksud kamu ikut arus itu, memangnya itu arus apa?”

“Ya menjadi PNS itu guru.”

“Sebentar-sebentar, memang apa jeleknya itu jadi PNS?”

“Lah, menjadi PNS itu cita-cita sejuta umat, saya tidak ingin menjadi orang yang semacam itu. saya ingin punya kebebasan, punya kreativitas tinggi, dan memberikan pengaruh untuk orang.”

“Apa kalau jadi PNS kamu tidak bisa melakukan itu semua?”

“Ya mungkin peluangnya ada, tapi kecillah. Selain itu menjadi PNS itu banyak Syubhatnya guru.” Kata Iwan lebih bersemangat.

“Syubhat bagaimana Wan?”

“Guru masa tidak tahu? Itu kan kelakuan para pejabat publik kita, perilaku tilep dan ‘uang administrasi liar’ ada dari tingkat kelurahan sampai birokrasi yang tinggi. Selain itu praktik korupsi dari yang kecil-kecilan sampai kelas berat ada semua, termasuk korupsi waktu dan bolos kerja. Pokoknya mereka itu hanya ingin hidup enak menunggu gaji bulanan kerja asal-asalan, lalu dengan enak menunggu uang pensiunan. Belum lagi kelakuan orang-orang yang bahkan menyuap sebelum tes. Bagaimana bisa hidupnya berkah dengan cara seperti itu?”

Sumber: https://www.pexels.com/photo/black-and-blue-cruiser-bike-205324/

“Hati-hati wan, kamu baru saja menilai orang dengan sebuah prasangka yang hanya didukung pendapat umum. Kamu pikir semua PNS seperti itu?”

Iwan menangkap perubahan nada bicara sang guru, “Tidak guru, tentu tidak semua, tapi banyak sekali yang seperti itu.”

Kini sang guru menyimpang rokoknya dan menyeruput kopinya sedikit, kemudian ia menatap Iwan.

“Wan, jangan pernah mengadili sesuatu dengan pengetahuan yang sama sekali tidak utuh. Kamu merasa menjadi PNS itu begitu buruk, karena perjalanan hidupmu tidak bersinggungan dengan hal yang berhubungan dengan itu, maka kamu sama sekali tidak berhak mengatakan keburukan-keburukan PNS.”

Iwan tidak bisa menjawab kali ini.

“Aku curiga kamu terdoktrin oleh narasi-narasi kekinian tentang bagaimana seseorang harus menjalan hidup di masa sekarang. Di mana semua orang harus memulai kerja kreatif, memiliki aset dan hidup dengan membiarkan uang bekerja untuk kita.”

Kini Iwan benar-benar terdiam, karena benar lah semua yang dikatakan gurunya itu.

“Dengar Wan, manusia terlahir dengan fungsi dan perannya masing-masing, jika semua orang hidup dari dunia kreatif seperti kamu, siapa yang akan membuat regulasi industrinya. Siapa yang akan mengurus pemerintahan, siapa yang akan menjalankan negara dan mengurusi rakyat.” Lanjut gurunya.

“Aku merasa justru cara pikirmu yang keliru.”

“Keliru bagaimana guru?”

“Justru orang-orang kreatif seperti kamu harus mulai berani ambil bagian di sektor publik, seperti jadi dosen, guru, atau di kementerian. Pegawai negeri sekarang harus memiliki mental swasta, yaitu kerja keras untuk mendapatkan target pemasukan. Bukan mental merumuskan anggaran, lalu berusaha menghabiskan. Yang tua-tua sudah akan habis, yang muda-muda harus lebih baik, jangan biarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab bercokol di sana dan makan uang rakyat.

“Wan, kesialan terjadi ketika orang-orang kreatif dan punya keahlian semacam kamu hanya bisa mencela, lalu membiarkan orang-orang tidak kompeten untuk maju. Mereka itu yang ketika daftar bukan berniat untuk berkarya dan melayani rakyat, tetapi berniat untuk dapat gaji bulanan tanpa kerja keras, tunjangan ini itu, dan punya pensiunan. Jika kamu tidak berani untuk ikut daftar, setidaknya jangan ikut memaki. Doakan mereka semoga memiliki niat yang tulus dan yang diterima adalah orang yang akan membawa kemaslahatan.”

Iwan tercekat, sekali lagi, gurunya membantai habis argumennya. Perasaan kesal yang dibawa awalnya kini berubah menjadi perasaan bersalah, ia ingin segera pulang dan bertemu ibunya. Langit sudah memerah, Magrib telah tiba sekarang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *