Yang Fana Adalah Waktu, Kak Seto Abadi

Hanya ada satu Kak Seto di dunia ini, dengan kacamata berbingkai tipis dan rambut belah kanan yang tak lekang oleh waktu. Setidaknya sejak zaman si Komo lewat, sampai path tutup lapak, Kak Seto tampil sebagai sosok yang konsisten. Ramah, baik hati, dan sayang anak. Ada sebuah anekdot mengenai anak-anak yang lahir di tahun 90-an, yaitu, siapa saja anak yang dizalimi akan dilindungi Kak Seto, anak-anak zaman dulu mungkin harus membela dirinya sendiri.

Kemarin sore saya melihat Kak Seto sedang nongkrong di TV, beliau sedang menjadi narasumber dari sebuah kasus penyekapan anak di Makassar. Seperti biasa beliau ngobrol dengan santai tetapi tepat sasaran. Tidak ada raut tua atau perubahan berarti pada wajahnya, rambutnya pun masih hitam, pokoknya waktu seolah-olah berhenti untuk Kak Seto.

Saya merasa Kak Seto ini harus ada di setiap sekolah yang ada di Indonesia. Tidak sebagai penasehat, tetapi sebagai pelindung. Sekolah seharusnya bisa melindungi murid dari guru yang goblok, sekolah juga seharusnya bisa melindungi guru dari orang tua yang lebay. Sayangnya, ketika sekolah dipimpin oleh orang yang racun, maka semua orang membutuhkan perlindungan. Ambyar semua, kacau dan carut marut.

Kak Seto setelah ditrace di Corel Draw, tetap tidak berubah.

Kita tidak akan membahas semuanya, saya hanya ingin bicara soal yang pertama. Sekolah yang gagal melindungi murid dari guru yang tidak becus bisa dijamin tidak akan bertahan. Ini bukan soal guru yang tidak memahami mata pelajaran, karena tugas guru bukan memahami detailnya melainkan cara menyampaikannya. Ini mengenai pandangan si guru terhadap si murid. Jika selamanya guru mengira murid yang dihadapinya adalah benda mati, maka wassalam sudah…

Banyak guru yang lebih mementingkan prestasi yang terukur dengan angka, bukan karena kebanggaan muridnya, melainkan untuk membanggakan dirinya juga karena telah berhasil mengajar. Oke, mungkin itu tidak salah, tetapi ini memberikan tekanan lain pada anak yang tidak mahir di satu pelajaran tertentu. Saya selalu punya prinsip dalam mengajar: jangan menjadi lembek, tetapi tidak perlu juga terlalu keras memaksakan murid. Karena akhirnya, mungkin masa sekolahnya hanya akan menjadi titik kecil dalam garis panjang peta waktu hidupnya. Jadi tidak perlu lah para guru itu terlalu geer bahwa mereka adalah pahlawan yang layak diingat bagi para murid.

Sehingga rasanya tidak perlu bagi seorang guru untuk memaksakan kehendak dirinya kepada murid secara berlebihan. Misal, seorang guru tidak perlu memaksa seorang murid untuk mengikuti olimpiade pelajaran jika murid itu tidak bersedia, bahkan jika ia berpotensi. Atau janganlah seorang guru itu berlebihan memarahi murid yang salah pakai seragam, karena masalah semacam itu tidak begitu esensial.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dengan lebih mendalam. Seperti misalnya keadaan psikologis murid, cara belajarnya yang berbeda dengan murid yang lain, atau latar belakang keluarga yang mendorong murid tersebut memiliki perilaku tertentu. Semua itu perlu dipertimbangkan dan seringkali luput dari pengamatan. Itu semua terjadi karena semua orang di sekolah menyangka bahwa sekolah itu tempat membuat anak menjadi pintar, baik, dan penurut. Semua itu salah besar! Sekolah itu tempat anak bertemu teman-temannya, tumbuh dan menjadi anak seumurannya. Sambil sedikit-sedikit kita tanamkan dasar-dasar pengetahuan serta kita betulkan budi pekertinya yang belum sesuai dengan norma di masyarakat. Namun masalahnya, ketika gurunya ternyata adalah orang anti-sosial, tidak punya teman, dan yang ia tahu hanya bagaimana mengerjakan soal-soal. Cilaka jadinya.

Penting bagi guru untuk tetap bersikap woles dan tenang, tetapi tetap penuh wibawa dan berpengetahuan. Sehingga murid pun akan hadir kepada kita dengan rasa hormat, bukan dengan rasa takut. Setelah itu, barulah setiap kata dan perbuatan kita akan menjadi hikmah bagi semua anak, hikmah itu akan tertanam di dalam diri mereka, kekal, dan langgeng seperti rambut Kak Seto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *