Menakar Kembali Kasta Guru

Ada murid yang berani meledek guru dan mengguyonkan mereka sesuka hati, bahkan di hadapan para gurunya sendiri. sekarang murid seperti itu ternyata telah mainstream.

Ribuan tahun yang lalu, sistem kasta pernah berlaku dalam struktur masyarakat Indonesia. Susunan kasta tersebut menempatkan Brahmana sebagai kasta tertinggi, mereka terpandang bukan karena kekuasaannya, melainkan karena keluhuran ilmu dan pencapaian spiritualnya, sehingga dianggap sebagai kalangan yang paling dekat dengan dewata. Sementara di tempat kedua ada kasta ksatria yang merupakan golongan terpelajar dan terlatih, mereka adalah yang menjalankan roda pemerintahan dan urusan negara. Selanjutnya ada kasta Waisya yang merupakan para pedagang dan pekerja, terakhir adalah Sudra yang tidak lain adalah pengemis dan budak. Seandainya saja sistem tersebut masih berlaku hari ini, penulis ingin tahu di manakah letak kasta para guru.

Apabila melihat fungsinya, guru sebagai pendidik dan pemberi pengetahuan seharusnya tergolong ke dalam kasta Brahmana. Para guru adalah orang terhormat yang siap menuangkan pengetahuan dan mengajarkan berbagai kebijaksanaan kepada para siswa. Membuat manusia yang awalnya buta huruf menjadi manusia yang mampu baca-tulis adalah pekerjaan yang harganya tidak ternilai, mengajari manusia mengerti logika dan ilmu hitung adalah sesuatu yang tidak mungkin terbayar. Namun begitu, uang bensin dan uang makan seorang guru adalah hal yang sangat mungkin untuk dibayar.

Sayangnya, dalam era industrialisasi pendidikan semacam sekarang ini, guru kehilangan sifat brahmana-nya. Sekarang adalah zaman di mana guru mendatangi sekolah, mencari lowongan untuk bisa mengajar dan mendapatkan gaji dari waktu mengajarnya itu. Akibatnya, guru menjadi pekerja bagi sekolah, dan layaknya semua pekerja, ada hal-hal terikat yang harus dipatuhi sehingga guru terkurangi kemerdekaannya. Efek lainnya adalah para siswa yang kehilangan rasa hormat pada gurunya. Mereka menyadari bahwa mereka membayar kepada sekolah, maka guru tidak lain adalah pelayan yang harus mengikuti keinginan mereka.

Hubungan yang dibangun bukan lagi hubungan pengajar dan yang belajar, melainkan pelanggan dan pedagang. Sikap hormat kepada guru seolah perlahan hilang, karena kasta guru tidak lagi berada di level Brahmana yang dihormati dan dimuliakan, melainkan turun menjadi satu kasta dengan Waisya, yaitu para pedagang yang adu tawar dengan pembeli. Tentu saja hal ini tanpa bermaksud merendahkan para pedagang, karena semua pekerjaan yang halal adalah mulia. Sedangkan hormat kepada guru yang dimaksud bukanlah kepatuhan tanpa daya kritis dan kemampuan menyatakan pendapat, melainkan kesadaran akan posisi guru yang perlu dihormati sekurang-kurangnya dengan ucapan dan perlakuan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di sekolah-sekolah swasta yang bonafide, para guru mendapatkan gaji yang cukup tinggi, namun, tetap saja para guru tersebut tidak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah tempatnya mengajar. Ini adalah sisi ironisnya, di kala anak orang lain mendapatkan pendidikan yang di atas rata-rata, anak-anak dari para guru yang mengajar dari sekolah semacam itu justru tidak bisa mendapatkan pendidikan semacam itu.

Berusaha menjadi terhormat

Penghargaan kepada para guru seharusnya bukan hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi menjadi urusan semua lapisan masyarakat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat mau menempatkan posisi seorang guru. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2015 mengenai kesejahteraan guru, guru-guru di Korea dan Jepang menduduki posisi terhormat di kalangan masyarakat. Meski gaji mereka bukan dianggap yang tertinggi, tetapi mereka dihormati dan dianggap sangat penting di masyarakat. Negara Eropa utara seperti Finlandia dan Islandia menempatkan guru sebagai pekerjaan yang selevel dokter dan teknisi di Indonesia, kedudukan sosial mereka secara otomatis tinggi di negara-negara ini.

Itulah letak perbedaannya, di Indonesia, orang diperlakukan sesuai dengan jumlah kekayaannya. Semakin kaya seseorang maka ia semakin terhormat, sementara semakin miskin maka semakin hina hidupnya. Guru yang notabene memilik penghasilan tidak jauh dari UMR tentu saja kehilangan kehormatannya. Kekhawatiran penulis adalah, dengan posisi seperti ini mungkin saja profesi ini semakin sepi peminat, jika pun ada, orang-orang itu hanya akan menjadi pengajar, bukan menjadi guru. Jika suatu tatanan masyarakat kehilangan pendidik yang sejati, maka masyarakat itu tengah berjalan menuju kehancurannya.

Rasanya tidak akan ada masyarakat yang peradabannya runtuh selama mereka memuliakan gurunya. Karena tanpa ada yang mendidik tentang pekerti dan pengetahuan, maka tidak akan ada lagi yang meneruskan kejayaan suatu bangsa.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu memuliakan para guru, hal yang paling mudah adalah melalui media sosial. Sebuah gerakan yang mengampanyekan penghormatan kepada guru, menghargai kesabaran dan keuletannya dalam mengajar dan mendidik. Meski mungkin tidak bisa mengubah secara langsung, tetapi setidaknya masyarakat luas bisa menangkap ide mengenai memuliakan guru dan melindungi mereka dari ketidakberdayaan. Semoga para guru di Indonesia selalu berperilaku mulia, meski kadang lupa dimuliakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *