Projection Milik Freud dan Hantu Dalam Pikiran Kita

Saya bukanlah penggemar stand-up comedy, mungkin saya lebih cocok menjadi penikmat lawakan warung kopi, meski begitu, saya juga cukup update dengan perkembangan terkini dari dunia tersebut. Saya menyempatkan menonton video Juru Bicara World Tour Pandji Pragiwaksono, karena selain tur tersebut cukup fenomenal, saya sebenarnya tidak begitu tahu banyak komika yang lain selain Pandji atau Raditya Dika. Ada satu bit komedinya yang membuat saya tertegun beberapa saat. Jika tidak salah saat itu ia sedang membicarakan rating dan sensor, Pandji membahas betapa konyolnya sensor TV di Indonesia, sampai Shizuka dan adegan memerah sapi saja harus kena sensor.

Namun yang menarik perhatian saya bukanlah Shizuka atau pun susu sapi, melainkan apa yang Pandji katakan setelah itu. Jika tidak salah dia mengatakan sesuatu seperti ini, “Dalam Freudian Psychology, ada sebuah istilah yang disebut dengan ‘projection’, di mana seseorang memproyeksikan apa yang dia pikirkan terhadap pikiran orang lain. Jadi kalo ada orang yang ngerasa orang lain bakalan jadi mesum karena ngeliat susu sapi, sebenernya yang mesum itu dia!” statement itu diikuti gemuruh tawa dan tepuk tangan penonton, setelah usai menonton video tersebut, saya langsung merasa perlu mempelajari mengenai projection ini. Hasilnya, saya menghabiskan semalaman untuk membaca beberapa jurnal dan artikel mengenai topik ini.

Sumber: https://giphy.com/explore/doraemon

Secara ringkas projection adalah suatu kondisi psikologis di mana kita menyangka seseorang berpikir seperti yang kita pikirkan. Ini adalah kebalikan dari empati, di mana kita merasakan apa yang orang lain rasakan. Dalam bahasa yang lain, projection berarti prasangka buruk yang levelnya sudah akut, namun prasangka itu didasarkan pada sikap kita sendiri. Misal, ada seorang perempuan yang khawatir pacarnya selingkuh, tapi itu bukan karena pacarnya genit atau tebar pesona di mana-mana, melainkan karena perempuan itu sendiri adalah orang yang pernah/mudah selingkuh.

Hal semacam ini tidak hanya terjadi dalam konteks hubungan asmara, saat ini, hampir semua hubungan sosial masyarakat Indonesia seolah overdosis projection. Hal ini mudah ditemukan di sosial media, apalagi di musim Pilkada serentak seperti sekarang ini (Pilkada telah memasuki hari H ketika tulisan ini dibuat). Satu kubu mengira kubu lain membencinya dan berniat menghancurkannya, kubu yang lain mengira si kubu satu itu adalah kubu biadab yang berniat meracuni mereka dengan paham-paham kafir dan membawa mereka ke neraka. Nah kubu yang menjadi penonton kebagian enegnya.

Sumber: https://gifer.com/en/9PVW

Padahal kedua kubu itu sama-sama sedang menghadapi diri mereka sendiri, orang yang menyangka orang lain memengaruhinya sebetulnya memang punya niat juga memengaruhi orang lain. Orang yang mengira orang lain membencinya, sebetulnya juga sedang membenci orang lain.

Freud sendiri sebagai yang empunya teori ini, menggolongkan projection sebagai salah satu bentuk defence-mechanism. Ia hadir untuk mempertahankan ego, ketika ego terluka, perasaan seperti kecemasan, ketakutan, dan obsesi mendominasi diri kita. Orang yang termakan oleh isu-isu adu domba dalam Pilkada adalah orang-orang yang menciptakan hantu-hantu di dalam pikirannya sendiri.

Ketidakmampuan berkomunikasi dan melakukan tabayyun (konfirmasi) telah menutup pintu untuk saling mengerti, mengunci gerbang untuk saling melihat isi pikiran masing-masing. Ketika kita menyangka orang berpikir seperti yang kita pikirkan, saat itulah kita perlu bicara, kita perlu melihat apakah prasangka kita memang seperti kenyataannya. Keadaan sekarang benar-benar membuat kubu-kubu terbelah, jika kamu tidak mendukung kami, artinya kamu memusuhi kami.

Membenarkan prasangka kita, sama saja seperti orang yang menceritakan bagaimana sibuknya kota London dan kota-kota lain di Eropa sementara seumurnya hidupnya orang itu tidak pernah pergi dari kotanya sendiri.

Prasangka ini kemudian ditumbuh suburkan oleh orang-orang yang empunya kepentingan, memakmurkan perselisihan artinya memelihara komoditas, yaitu: kebencian. Semakin orang-orang saling membenci, semakin mudah orang dikendalikan, karena hantu di dalam pikirannya sendiri sudah besar dan merajalela, tidak perlu lagi menciptakan musuh yang nyata, karena ilusi saja sudah sangat ampuh.

Membangunkan Kesadaran

Saya pernah bertemu seorang Biksu di Bandung, ketika berbicara dengannya saya bertanya tentang apa yang membuat hidup kita bisa menjadi lebih damai?

Ia menjawab, “Sadar selamanya,” sambil tersenyum.

Dari sebuah kalimat pendek itu, ada pengertian yang teramat dalam. Kita memiliki hidup yang nyata tetapi memilih untuk berada di dalam ilusi. Kita memilih dijajah oleh pikiran kita sendiri daripada memenangkannya. Biksu tersebut mengajarkan jika setiap saat kita berpegang pada kenyataan, maka yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Seseorang yang sadar dan memegang kendali pikirannya, tidak akan membiarkan hantu-hantu hidup di dalamnya. Selamanya ia akan waspada, tidak mudah terjebak ke dalam provokasi yang memicu pertikaian. Projection yang akan hidup di dalam orang-orang seperti ini adalah pikiran-pikiran yang positif, seperti berpikir bahwa orang lain akan bisa sesukses kita karena kita pun mampu melakukannya, atau berpikir bahwa orang lain tidak akan mudah menyakiti kita karena kita pun tidak tega menyakiti orang lain.

Meski terdengar utopis dan menggelikan, saya cukup percaya bahwa akan tiba saatnya orang mulai menghapus pikiran-pikiran buruknya. Semakin banyak waktu yang dibuang untuk berprasangka kepada orang lain, semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk berkarya dan menjadi manusia baik hati. Jika tidak, setidaknya kita bisa berhenti menyakiti orang lain dan diri kita sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *