MENGAPA JAM KERJA GURU DI SEKOLAH ISLAM BEGITU UUUHHH

Saya agak lupa kapan pertama kali berdirinya sekolah semacam SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), tapi nampaknya semenjak munculnya SDIT, para orang tua seperti punya pilihan alternatif untuk memilih pendidikan bagi anaknya khususnya untuk mendapatkan fasilitas plus plus. Plus di sini contohnya adalah menghafal Al Quran, menghafal hadis, shalat duha berjamaah, dan berbagai hal lain yang tidak ada di sekolah SD negeri.

Berapa biayanya? Oh jangan ditanya kawan, biaya masuknya sekarang bisa seharga 10 juta sampai 20 juta, bayaran bulanannya berkisar dari 800 ribu sampai 2 juta rupiah. Bagi orang tua yang belum siap dengan harga itu, tolong jangan sampai menjual ginjal, masih banyak sekolah negeri yang gratis. Saya bicara tentang sekolah-sekolah yang ada di Bandung, di tempat lain mungkin berbeda keadaannya.

Sumber: https://giphy.com/gifs/expensive-DnQVG9HRFW1Yk

Lalu apakah murid-murid di sekolah semacam ini memiliki output yang berbeda? Tentu saja, beberapa dari mereka sudah pandai membaca Al Quran dan mungkin beberapa di antaranya sanggup menghafal beberapa juz. Hal ini tidak lepas dari pelajaran-pelajaran ekstra yang didapatkan oleh anak-anak itu, itulah sebabnya rata-rata SDIT adalah full day school karena harus menampung jam-jam tambahan yang menunggu.

Saya mungkin akan bahas soal pro kontra full day school di kesempatan lain, tetapi sebetulnya siapakah korban dari full day school terutama sekolah berembel-embel Islam ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah pahlawan tanpa tanda jasa Oemar Bakri para guru tercinta. Mereka menjadi korban karena harus datang lebih pagi dan pulang lebih petang, terus tuntutan beban kerjanya itu masyaaaaa Allah…..

Sumber: https://giphy.com/gifs/help-big-bang-theory-me-oGzFZek2lszlK

Data ini saya peroleh dari berbagai wawancara informal dengan guru-guru yang mengajar dan juga kunjungan saya ke beberapa sekolah itu, saya bahkan pernah wawancara kerja di sekolah semacam ini sewaktu awal lulus S1. Semuanya memiliki pola yang serupa, masuk jam 7 pulang sekitar jam 4 atau jam 5, guru harus membuat portofolio, ada pengawasan saat mengajar, masuk di hari libur saat ada pelatihan guru, beberapa harus hafal juz 30 meskipun bukan guru agama, dan ada sekolah yang memotong uang transport jika seorang guru terlambat datang ke sekolah.

Oke kalau mau dibilang beban kerja guru harus lebih berbobot agar meningkatkan kualitasnya, maka bayarannya harus juga disesuaikan. Kebanyakan para guru digaji tidak sampai UMR, lah terus kenapa beban kerjanya harus bejibun seperti itu. Sekolah biasanya berdalih bahwa pekerjaan ini membutuhkan keikhlasan, dan ini adalah ibadah yang penuh dengan keberkahan dari Allah swt. Hmm….dengar ya, kalau mau ibadah, lebih baik para guru itu solat duha dan puasa daud, ditambah menyantuni anak yatim. Pak, Bu, jasa guru itu memang tidak terbayar, tetapi ongkos grab-nya, waktu bersama keluarganya, pikirannya, semua itu bisa dibayar, sangat bisa. Ikhlas bukan berarti murah lho.

Sumber: https://www.picgifs.com/reaction-gifs/bitch-please-judging-you-eye-roll/reaction-gifs-bitch-please-judging-you-eye-roll-1021793

Ini yang lebih sedih, guru yang mengajar di SDIT, terkadang tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Alasannya sederhana, gaji guru tersebut tidak cukup untuk bayar uang masuk dan biaya bulanan di sekolah tempatnya mengajar. Ironis bukan, seorang guru yang mengajar di sekolah elit (mahal) harus menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah “biasa”.

Orang boleh tidak percaya dengan tulisan saya dan mungkin tidak setuju, tetapi beginilah adanya. Para orang tua pasti berbahagia melihat anaknya bisa ini itu lewat sekolah-sekolah seperti ini, tetapi para guru yang membantu mereka menjadi bisa ini itu malah tidak bisa mengajari anak-anaknya hal yang sama.

Biar saya bercerita sedikit, saya memang tidak mengajar di SDIT, saya hanya menceritakan pengalaman beberapa kawan saya. Saya justru mengajar di sekolah liberal yang sekuler habis, dengan kurikulum IB (International Baccalaurete) yang aseng saya mengampu pelajaran dalam MYP (Middle Youth Programme); selevel anak SMP.

Saya tidak akan bilang sistem ini lebih baik, tapi ya iya memang begitu kenyataannya. Para guru setidaknya lebih diperhatikan kesejahteraannya, tidak hanya soal gaji, tapi juga soal beban kerja. Beban kerja cukup berbobot, tetapi sejalan dengan penghasilan, selain itu kami memiliki libur setiap setelah 8-9 minggu pembelajaran, dengan waktu libur sebanyak 7 hari. Cukup untuk leyeh-leyeh nonton drama korea, atau kalau mau melakukan hal produktif yang lain ya silakan. Libur panjang ada dua kali dalam setahun, yaitu dua bulan di pertengahan tahun (Juli-Agustus), dan satu bulan saat natal (pertengahan Desember- pertengahan Januari). Paling kami harus masuk satu minggu sebelum para murid masuk, tapi itu ya cukup lah.

Sumber: https://giphy.com/gifs/food52-food-wine-52-4WSayDGcgnRe

Saya juga tidak bilang saya suci kalian penuh dosah, saya juga merasa tidak enakan karena sekolah tempat saya mengajar dulu biayanya lebih mahal dari SDIT. Tetapi apologi saya adalah sekolah itu memang diperuntukkan untuk para bule yang tinggal di Indonesia. Kalau ada anak Indonesia, itu pasti mereka yang tajir melintir, coba ditanya siapa ayahnya, maka setidaknya 1 dari 10 bapak mereka itu kamu akan tahu orangnya.

Maka dari itu, saya agak aneh mengapa sekolah elit yang biaya masuknya puluhan juta itu dan muridnya banyak tetap menggaji guru dengan seadanya. Sedang mereka meninggikan bangunan-bangunan, padahal kalau bangunan itu tidak ada gurunya tidak ada gunanya. Kalau mau mengikuti prinsip Jack Ma dalam bisnis urutan prioritas seorang pemilik bisnis adalah: pelanggan, pegawai, dan aset. Jika ditarik ke dunia sekolah prioritas itu seharusnya: murid, guru, infrastruktur. Tetapi kemudian saya tiba-tiba lupa bahwa sekolah itu bukan bisnis…..katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *