Belajar Leadership Bersama Anak-Anak

Selama satu minggu kemarin, saya ditugasi untuk menggawangi pesantren kilat di masjid Al Birr, Ciganitri, Buah batu, Bandung. Mata pelajaran yang saya ampu adalah mengenai kepemimpinan untuk anak-anak. Dulu waktu SD saya sering mengikuti pesantren kilat di sebuah masjid dekat rumah, pelajarannya tidak jauh dari soal Fiqh Salat, Quran Hadis, dan sedikit Bahasa Arab. Tampaknya sanlat zaman sekarang memasukkan banyak hal baru di dalam mata pelajarannya, seperti kepemimpinan ini.

Oke, sama sekali tidak jelek, dan cenderung keren. Artinya selain belajar agama, mereka juga berlatih soal disiplin dan kepemimpinan. Selain karena kepemimpinan ini adalah bidang yang saya kuasai, dan saya terlatih untuk mengajarkannya, anak-anak juga memang sangat memerlukannya. Kepemimpinan meliputi kerjasama tim, menghargai orang lain, bernegosiasi, merancang strategi dan lain hal nya. Tetapi bagaimana menerangkan semua istilah kompleks itu terhadap anak-anak SD yang hobinya main mobile legend?

Kalau saya memulai semuanya dengan sebuah definisi, kemudian menjelaskan apa itu kepemimpinan, saya yakin tidak sampai lima belas menit, mereka semua pasti akan tertidur. Cara terbaik untuk mengajar anak-anak adalah membuat mereka mengalami, nglakoni apa yang hendak kita ajarkan. Mereka akan mengerti apa itu kepemimpinan, apa itu kerjasama tim atau komunikasi meskipun belum tentu bisa mendefinisikannya.

Contohnya, untuk mempelajari komunikasi dengan baik, saya bertanya kepada mereka, “Apakah semua yang ada di sini bisa bicara dengan baik?”

Serempak mereka menjawab bisaaaaa…. beberapa anak yang lebih tua bahkan mengerutkan dahi karena menganggap saya aneh bertanya begitu.

Saya pun bertanya lagi kepada mereka, “Apakah semua yang ada di sini bisa mendengar dengan baik?”

Semuanya langsung menjawab lagi dengan jawaban yang sama.

“Baik, coba kita buktikan.” Kata saya, di sinilah saya mengetes semua perkataan mereka, dan sedikit sombong saya akan membuktikan bahwa mereka semua salah. Saya meminta setiap kelompok untuk duduk berbaris ke belakang. Di mana orang yang paling depan akan menghadap ke saya dan semua orang di barisannya membelakangi saya. Kemudian saya memberikan beberapa kata untuk diingat orang yang paling depan, setelah mereka ingat, mereka harus membisikkan pada orang di barisannya satu persatu, terus berantai sampai yang paling akhir. Yang terakhir harus mengatakan apa yang dia dengar.

Ya, ini adalah permainan pesan berantai yang sederhana itu, atau seperti permainan komunikata yang dulu ada di MNC (dulu TPI). Menyenangkan sekali melihat mereka semua ternyata salah, dan tidak ada yang benar selama tiga kali percobaan. Mereka kebingungan, karena kata yang saya berikan sama sekali tidak sulit, tetapi tidak ada yang bisa mengulanginya dengan benar. Mereka bertanya-tanya, siapa yang pertama kali membuat kesalahan di dalam barisannya, tetapi percuma, karena sepertinya setiap orang sudah mengubah kata-katanya.

Permainan ini melatih komunikasi dan upaya untuk mau mendengarkan orang dengan baik, seringkali kita mendengar tetapi tanpa perhatian, akibatnya kita tidak menyerap apa yang orang lain katakan, melainkan hanya menafsirnya sesuai penangkapan kita yang tidak sempurna. Artinya, apa yang kita dengar itu bukanlah yang sejatinya, melainkan prasangka kita terhadap perkataan orang lain.

Saya pun memberi penjelasan setelah semua kelompok mengumpulkan nilai nol pada sesi ini, saya menjelaskan pentingnya mendengarkan orang lain, betapa krusialnya berbicara dengan baik. Saya meminta mereka untuk mau berkomunikasi dengan benar. Di sesi berikutnya saya juga melakukan sebuah game sederhana untuk melatih kerja sama tim. Permainan ini dinamai designing tower, atau merancang menara. Permainan ini saya dapatkan dari situs icebreakers.ws.

Idenya sederhana, setiap kelompok saya beri modal berupa dua bundel koran, setiap kelompok harus mendirikan sebuah bangunan menara dengan hanya koran dan selotip. Mereka bebas merancang menara macam apa dengan dua bundel koran tersebut. Pada permainan itu, setiap kelompok secara alami harus bekerja sama dan berpikir untuk mendirikan menara. Mereka akan berkomunikasi, bernegosiasi dan berstrategi karena modal mereka terbatas.

Dalam waktu 45 menit, semua kelompok berhasil mendirikan menara kecuali satu tim yang gagal karena salah dalam membuat konsep, tetapi mereka pun berhasil membuat menaranya. Setelah itu kami evaluasi bersama dan menceritakan apa yang sudah dipelajari dari membuat menara. Mereka mengatakan awalnya sulit untuk menyatukan ide dan membuat keputusan, tetapi setelah mereka setuju mereka bisa memulai sesuatu dengan lebih terarah. Membangun kerja sama yang efektif juga menjadi sasaran dalam permainan ini. Untungnya semua bisa melaksanakannya dengan baik.

Saya merasa apa yang saya berikan setidaknya bisa membantu mereka memahami sedikit hal mengenai kepemimpinan. Tetapi di luar itu, saya ingin mereka bersenang-senang dan menikmati belajar dengan cara seperti ini. Karena bagi anak-anak, yang paling penting adalah bermain yang tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar banyak hal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *