Nafsu Menginjak Sandal

Setiap melaksanakan tarawih, setiap orang selalu berusaha menjadi lebih khusyuk di dalam salatnya. Sebelum salat, biasanya seorang ustad akan memberikan tausiyah mengenai pentingnya mengendalikan hawa nafsu ketika bulan Ramadan. Tidak seperti khutbah Jum’at yang menjadi obat tidur bagi mereka yang insomnia, tausiyah saat tarawih biasanya lebih didengarkan karena durasinya lebih pendek.

Seyogianya, sebagai umat muslim yang baik, kita mesti meresapi apa yang disampaikan oleh ustad dan kemudian mengamalkannya, termasuk saya. Tetapi mungkin saya pun ada bodohnya karena mengira semua orang ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh ustad. Ketika keluar dari masjid saya merasa saya harus mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadi manusia egois. Termasuk ketika hendak mengambil sandal, sandal yang berantakan di depan teras masjid itu memang tidak ditata, tetapi semua sandal itu pasti ada yang memiliki.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk mengambil sandal saya tanpa menginjak sandal yang lain. Karena saking hati-hatinya saya tidak bisa bergerak sembarangan, akan tetapi, sekonyong-konyong orang-orang di belakang saya langsung menceburkan kakinya ke dalam lautan sandal tanpa tedeng aling-aling. Otomatis, sandal yang sejak awal tidak rapi itu sekarang menjadi berantakan tidak karuan.

Saya yang berhati-hati agar tidak menginjak sandal orang ini serasa sedang dikhianati oleh orang-orang yang berusaha saya jaga sandalnya. Sejurus kemudian, saya melihat swallow hijau saya pun tidak luput dari injakan kaki-kaki biadab itu, beberapa dari mereka sudah memakai sandal untuk menginjak sandal saya. Manusia benar-benar makhluk yang egois, mereka ingin mengambil sandal mereka sendiri dengan tega menginjak dan menyingkirkan sandal milik orang lain. Sejak hari itu, saya selalu membungkus sandal swallow saya dengan kresek yang saya bawa dari rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *