Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean

Apa kamu pernah melihat seseorang yang sebetulnya inkompeten tetapi punya rasa percaya diri yang sangat super. Atau melihat seseorang yang tidak punya pengetahuan tentang suatu hal, tapi bicara paling vokal dan berani tentang hal tersebut? Yap, kita pasti kenal seseorang seperti itu di lingkaran pergaulan kita, dan kita juga sepakat bahwa orang-orang semacam ini adalah NYEBELIN!

Tidak hanya mereka ini sotoy, tapi juga sering kali menggurui. Bahkan terkadang ketika kita punya pengalaman lebih banyak soal perkara tersebut, mereka gengsi mengakui dan berpikir bahwa merekalah ahlinya. Namun ternyata, sayang sekali, hampir kita semua adalah manusia seperti itu di beberapa waktu.

Saya pernah merasa punya kepercayaan diri dalam bidang olahraga, saya merasa cukup atletis dan bisa beradaptasi dengan olahraga apa saja. Maka ketika seorang kawan mengajak saya untuk main tenis meja, saya merasa sudah jago dan bisa membuat orang terkaget-kaget dengan kemampuan saya. Yang terjadi memang demikian, mereka terkaget-kaget dengan betapa culunnya saya main ping pong. Beberapa kali pukulan yang loss atau nyangkut di net membuat saya terlihat bodoh sekali, sejak hari itu saya menyadari bahwa saya tidak jago main ping pong. Untunglah itu cuma main tenis meja, coba kalau itu soal agama atau ilmu lainnya, bisa malu berat saya dan sembunyi di dalam liang.

Inilah yang disebut dengan Dunning-Kruger Effect, fenomena ini dinamai begitu oleh dua orang penemunya yang ingin eksis itu. Jadi sederhananya, setiap orang secara psikologis punya semacam ilusi bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ego kita menutupi pengetahuan kita tentang diri kita, dan secara tidak sadar kita merasa menang dari siapa saja.

Kedua, seseorang justru cenderung tidak punya gambaran yang utuh tentang dirinya dan hanya orang lain yang bisa melihat itu. Ketiga, kita tahu bahwa kita punya kekurangan, tetapi karena pengalaman yang kurang, kita jadi tidak pernah melihat batas-batas diri kita. Kenyataannya kita tidak pernah begitu baik dalam mengevaluasi diri kita, akibatnya kita malah sering kali melebih-lebihkan kemampuan kita. Mungkin hal ini juga senada dengan apa yang dituliskan oleh mas Iqbal Aji Daryono soal Jonru dan Buni Yani.

Dunning-Kruger ini melakukan penelitian di dua perusahaan komputer, dan meminta mereka memberi ranking para programmernya dari yang terbaik sampai terburuk. Hasilnya, 32% programmer di perusahaan 1 dan 42% di perusahaan 2 meranking diri mereka dalam lima besar. Sebuah otokritik yang menyenangkan saya rasa.

Dalam penelitian itu, Dunning-Kruger juga menyimpulkan, bahwa biasanya orang yang justru paling tidak kompeten adalah orang yang senang melebih-lebihkan kemampuannya dengan cara paling lebay.

Menariknya, orang yang tidak kompeten dalam suatu hal umumnya melakukan dua hal buruk, yaitu: membuat pilihan yang salah, dan tidak tahu apa kesalahannya. Intinya, orang yang tidak paham terhadap sesuatu sebetulnya tidak tahu dan tidak tahu bahwa mereka itu tidak tahu. (pusing).

Namun begitu, biasanya ketika seseorang tahu kekurangannya, dan berani mengakuinya dia justru bisa menjadi lebih baik. Misal, ketika saya awal pacaran dulu, saya baru tahu dari pacar saya kalau saya adalah orang yang agak kasar. Tetapi karena saya pun akhirnya mengakuinya, saya bisa tahu bahwa saya sering bersikap tidak baik kepada orang lain. Minimal ketika saya menyadarinya saja sebelum berusaha memperbaikinya, saya sudah dapat feedback dari orang lain bahwa saya berubah menjadi orang yang penyayang dan penuh kehangatan.

Efek sebaliknya dari Dunning-Kruger ini juga sangat sejalan, yaitu, orang yang kompeten dan paham tentang sesuatu biasanya tidak begitu percaya diri. Mereka ini lebih bisa mengalah dan lebih mau mendengar orang lain. Karena mungkin mereka merasa bahwa apa yang mereka pahami itu adalah hal yang biasa, yang juga dipahami oleh semua orang.

Kita pasti punya orang seperti itu di lingkungan pergaulan kita, dan kita semua sepakat bahwa orang seperti ini BIKIN IRI. Jika orang itu pintar, rendah hati, dan apalagi ganteng dan kaya, hilanglah kesempatan kita untuk bisa pamer di depan ciwi-ciwi. Untunglah seringkali orang semacam ini sudah punya pacar, sehingga rasa insecure kita sedikit berkurang.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita sadar bahwa kita ini punya kekurangan dan ketidaktahuan? Mudah kawan, tanya saja temanmu yang jujur dan lempeng. Berjanjilah padanya bahwa kamu tidak akan marah kalau mereka jawab apa pun. Terakhir, jangan mematok diri kita pada keadaan yang sekarang, karena manusia selalu berubah, manusia selalu menyesuaikan diri. Jadi jangan suka sombong atau rendah diri, soalnya hidup ini berputar seperti nasibnya Joshua Suherman.

4 Replies to “Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *