Supaya Kita Tidak Banyak Maunya, Kita Harus….

Kemarin malam saya sedang menyusuri lembah dunia twitter, yang seperti biasa penuh dengan cacian dan twitwor. Namun di antara lautan kata dan data itu terselip sebuah tweet dari Marie Kondo, seorang ahli beres-beres rumah profesional yang bukunya pernah saya ulas di sini. Kondo sebetulnya menge-tweet sebuah link artikel yang ditulis oleh Ann Patchett yang berjudul “Shifting the perspective from ‘what do I need to add’ to ‘what  I already have and love.’” Atau jika diartikan kurang lebih adalah “mengubah pemikiran dari ‘apa yang harus aku punyai’ kepada ‘apa yang sudah aku miliki dan cintai.’”

Saya tidak sedang jadi endorser-nya Marie Kondo atau Patchett, karena mereka juga tahu, kalau saya yang endorse tidak akan laku. Tetapi saya sekarang memang sedang tertarik dengan konsep-konsep minimalis dan tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu. Di dalam artikel tersebut, Patchett menceritakan pengalaman no shopping year-nya. Atau setahun tanpa belanja.

Hal ini disebabkan Patchett mulai berpikir ketika seseorang mengungjungi situs online shop atau datang ke mall pikirannya akan berkata ‘apa yang saya butuhkan?’ namun pada kenyataannya, kita tidak pernah terlalu membutuhkan barang-barang yang ingin kita beli. Karena itu Patchett mencoba untuk mempuasakan dirinya dari berbelanja.

Tentu saja ia tetap berbelanja kebutuhan pokok untuk makan dan membayar listrik dan pajak. Namun ia mulai menghentikan belanja baju baru, sepatu baru, tas baru dan sejenisnya. Ia membeli kosmetik ketika kosmetiknya habis, ia membeli baterai jam dan tinta printernya ketika keduanya sudah tidak bisa digunakan lagi. Intinya, ia tidak membeli sesuatu yang ia tidak butuhkan.

Kebiasaan ini mendorong Patchett untuk lebih menyadari apa yang ia punyai, dan ternyata ia memiliki banyak hal. Dia sudah punya terlalu banyak barang di rumahnya, dan ketika ia mengurangi barang-barang itu dan tidak menambah barang terlalu banyak ia merasa lebih baik. “I feel much better now, I realized I had too many decision to make that were actually important, more people to help, and things to do.”

Image result for consumerism
sumber: Google

Apa yang Patchett alami itu tak ubahnya adalah perilaku mempelajari rasa syukur, dalam tulisannya itu ia juga menyinggung soal Siddharta Gautama yang meninggalkan segala yang dimilikinya untuk menjadi Buddha. Kepemilikan kita terhadap sesuatu menghalangi kita untuk mencapai pencerahan, bukan karena barangnya, tetapi karena rasa terikat kita terhadap apa yang kita miliki itu. Dengan mengurangi hasrat belanja, dan lebih berfokus untuk menggunakan apa yang dimiliki saat ini, Patchett berhasil menciptakan kebahagiaannya sendiri.

Hidup Minimalis

Saya sendiri sekarang mulai tertarik untuk hidup secara minimalis. Saya mengurangi jumlah pakaian saya dan apa yang saya punya di kamar saya. Saya menginggalkan barang-barang yang memang saya perlukan dan memang saya pakai sehari-hari. Selain itu, saya juga mulai mempelajari bagaimana mengelola ekonomi rumah tangga dari orang-orang Cina, yang terbukti sangat bijak dalam mengelola penghasilan. Ditambah juga, penghasilan saya sedang cukup seret sekarang ini 😊.

Meski begitu, orang-orang Indonesia seperti saya tidak perlu banyak diajari soal hidup minimalis, karena kita sudah minimalis dengan sendirinya. Toh GDP kita juga tidak lebih besar dari Malaysia, dan daya beli kita juga segitu-segitunya. Tetapi saya merasa dalam keadaan seperti ini pun kita tetap perlu untuk hidup tidak berlebihan dalam hal apapun.

Hidup minimalis ini juga saya mulai terapkan dalam perilaku saya, saya makan ketika lapar, dan tidur ketika ngantuk. Saya tidak menunggu waktu untuk keduanya dan tidak membuat batasan-batasan untuk tubuh saya, saya membuat tubuh saya untuk bekerja secara alami, namun dalam keaadaan tertentu saya mendidiknya untuk menyesuaikan diri. Seperti misalnya ketika saya harus makan di undangan, atau ketika saya harus begadang ketika ada kerjaan.

Image result for minimalist
Sumber: google

Hasilnya, saya merasa lebih sehat dan tubuh saya lebih mau mendengarkan saya, karena saya juga memberikan haknya. Yang berikutnya, dalam mengelola keuangan, saya tidak membeli sesuatu yang tidak saya butuhkan. Ketika saya menginginkan sesuatu, saya menahannya sesaat, membiarkannya, kemudian ‘poof’, keinginan itu hilang. Kalau kata Deddy Corbuzier di dalam vlognya, dia bilang, kalau kita mulai membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan, suatu saat kita akan menjual sesuatu yang kita butuhkan.

Intinya saya ingin bilang, kurangi kekaguman pada selebgram atau vlogger yang kerjanya unboxing barang-barang terbaru, atau jalan-jalan ke tempat-tempat jauh. Nilai hidup kita ditentukan di sini, saat ini, oleh sesuatu yang kita miliki dan cintai. Bukan pada sesuatu yang kita tidak miliki. Makanya Tuhan bilang, kalau kamu bersyukur akan Kutambah. Karena kita tidak bisa memulai atau membuat sesuatu dari yang tidak kita miliki. Berhenti menyakiti diri sendiri dengan membandingkan diri kita dengan orang lain.

Terakhir, ini tentu saja bukan ajakan untuk tidak belanja produk, karena kita tahu ketika masyarakat belanja, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Itu dikarenakan uang terus beredar dan orang menggunakan uangnya. Tetapi sejenak berhenti dan mengurangi perilaku konsumerisme, apalagi terhadap sesuatu yang tidak kita butuhkan, tidak akan membuat negara kita menjadi bangkrut.

Semoga jiwa kita selalu terjaga dari promo barang diskon dan jajan-jajanan aneh-aneh.

2 Replies to “Supaya Kita Tidak Banyak Maunya, Kita Harus….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *