KITAB-KITAB YANG TERSESAT

Terdapat kekuatan yang besar di dalam diri seseorang yang tahu tujuan hidupnya.

~Pram~

 

Suatu hari Tuhan menciptakan waktu, kemudian Ia ciptakan Adam. Dengan kekuatannya, Adam menyekat-nyekat waktu dan membentuknya menjadi ruang. Kemudian hadir planet-planet, kehidupan terbina di sana-sini. Dilengkapi dengan berbagai keperluan dan kekhususan di dalamnya. Manusia kemudian lahir, berkembang biak, berbudaya, dan mati.

Manusia tidak lahir ke bumi sebagai sebuah kebetulan, setidaknya itulah yang saya percayai. Setiap orang Tuhan bebani tugas khusus yang ia lupakan persis ketika ia lahir. Ketika seseorang hidup di dunia, mengingat dan menemukan tugasnya kembali adalah apa yang harus dilakukannya.

Saya mendapati itu ketika malam tahun baru kemarin saya berkunjung ke sebuah rumah yang biasa saya kunjungi. Di dalam rumah itu saya tidak sendirian, ketika itu saya dan beberapa teman berkumpul dan mengobrol. Rumah itu biasa saya kunjungi sejak bertahun-tahun lalu, dan kami biasa untuk duduk, menikmati kudapan, terkadang juga bermeditasi dan bertapabrata bersama.

“Tuhan tidak menciptakan surga dan neraka, kita lah yang melakukannya?” kata seseorang.

“Bagaimana maksudnya?”

“Neraka tumbuh di dalam diri kita setiap kali penyimpangan kita lakukan. Kita terlahir suci, dan harus kembali suci. Keberadaan kita di dunia perlahan menutupi kesucian kita, neraka kita perlukan untuk suci lagi saat kembali.”

“Lalu di mana neraka itu berada?”

“Di dalam setiap diri yang melakukan dosa. Ia didapatkan ketika kita tinggal di sini, baik pula ketika kita hendak ‘pulang’”

“Bagaimana dengan surga?”

“Ia pun sama, ia hadir di dalam diri setiap orang yang dekat dengan Tuhan. Menumbuhkan sensasi suka dan bahagia.”

“Apakah kesukaan di dunia ini juga adalah surga?”

“Kalau kamu ingin menyebutnya begitu juga silakan, tetapi mungkin netizen akan mengataimu sesat. Sebaiknya tidak usah.”

“Hahaha, saya tidak melakukan kejahatan apa pun.”

Saya tidak pernah membuktikan atau meneliti tentang hal ini, tetapi saya memiliki keyakinan bahwa yang tinggal di alam semesta ini bukan hanya manusia. Tetapi ada juga makhluk-makhluk lain, bangsa-bangsa lain yang tinggal di dimensi tersendiri, di frekuensi tersendiri. Semua menjalankan tugasnya sendiri-sendiri. Keyakinan itu yang membuat saya yakin, kepercayaan Tuhan kepada saya untuk hadir di bumi ada fungsinya tersendiri.

“Bagaimana saya bisa mengerti ilmu?”

“Kamu harus membaca kitab. Kitab itu ada di tulis di atas kertas, ada tersebar di alam sekitarmu, dan yang paling penting adalah yang ada di dalam dirimu.”
“Bagaimana saya bisa membacanya? Kitab yang ada di dalam diri saya?”

“Kamu harus berjalan kepadanya, menemukannya, dan membukanya sendiri. Semua berawal dari sana, semua berujung ke sana. Ketika kamu berhasil melakukannya, kamu akan ingat kembali apa yang Tuhan pertama katakan kepadamu, apa yang Ia minta darimu, apa yang Ia ingin kamu lakukan di sini.”

Berbagai manuskrip dan kitab-kitab mulai menghantui saya, bahwa pada kenyataannya, jangan-jangan manusia tidak akan pernah mati. Manusia hanya berpindah-pindah dimensi, kemudian terlahir kembali sebagai bayi yang amnesia. Kemudian tumbuh lagi dan harus mengingat lagi, kemudian begitu terus sampai entah kapan akhirnya.

Meski begitu, jika saya harus amnesia, saya berharap bisa tetap bahagia. Seperti saat sekarang, ketika saya masih Tuhan percayai untuk mengobrol dan tertawa-tawa, menikmati teh hangat dan kue gratis yang disediakan tuan rumah. Malam semakin malam, orang-orang merayakan entah apa di luar sana.

Saya pun bermaksud pulang, kota ini masih saja sama sejak dulu. Ketika malam, dingin sekali, bedanya kali ini lebih hangat dan berisik karena kembang api. Di jalan pulang saya melihat anak-anak sedang membakar jagung dengan ayahnya, saya berharap, tahun baru tidak terlalu cepat datangnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *