AGAMA DAN POLITIK ADALAH FANA, PISANG GORENG ABADI

Saya agak lupa, waktu itu mungkin juga sekitar bulan Desember yang dingin. Angin bertiup cukup kencang di kota Birmingham, membuat saya malas pergi ke luar rumah tetapi harus. Ketika itulah saya selalu merasa bersyukur kepada orang-orang yang sudah dengan baik hati membuat mantel dan syal agar tidak membuat kami dingin dan sepi.

Ketika itu saya sedang berjalan menuruni tangga bersama Li, seorang mahasiswi asal Cina yang sama-sama hendak pulang. Kami baru saja mengadakan study group di perpustakaan bersama dua teman lainnya. Karena cuaca sedang mendung, dan memang selalu mendung untuk menyesuaikan perasaan kami terhadap tugas-tugas yang ada, kami memutuskan untuk menikmati teh atau kopi terlebih dahulu di cafe yang ada di dalam perpustakaan.

Saya memesan teh camomile dan Li memesan entah apa saya lupa lagi. Ketika teh hangat itu mulai bereaksi di dalam perut saya untuk memberikan kehangatan yang menjalar, ketika itulah Li bertanya kepada saya,

“Gelar, kenapa orang Indonesia menggoreng pisang?”

Saya tertegun sejenak, karena saya tidak melihat sebatang pisang pun di ruangan itu, apalagi pisang goreng buatan Indonesia nun jauh di sana. Mengapa tiba-tiba sekali kawan saya ini bertanya soal pisang goreng?

“Apa di Cina kalian tidak melakukan itu?” saya balas bertanya kepadanya.

“Hm, kami punya berbagai macam olahan pisang. Tapi tidak ada yang digoreng.”

“Ya…kami hanya membuatnya saja, kenapa memangnya? Apa hal itu begitu aneh buatmu?”

“Entahlah, ide tentang buah-buahan yang digoreng itu rasanya tidak cocok di pikiranku sama sekali.”

Ya Allah, sampai saat itu saya sendiri baru sadar, rasanya tidak ada buah yang digoreng untuk jadi makanan olahan lain. Betapa saat itu saya sadar Li telah memberikan saya sebuah ‘aha moment’. Tetapi saya sendiri bingung apa faedahnya pertanyaan Li itu.

Image result for pisang goreng
Sumber: Google

“Wah…kalau soal itu aku juga bisa berdebat Li, apa kamu pernah merasakan pisang goreng?” tanya saya.

“Belum, aku tidak terlalu ingin mencobanya.”

“Akh, sayang sekali, kalau kamu belum mencoba pisang goreng, kamu belum merasakan nikmatnya dunia.”

“Hahahaha, bohong ah. rasanya pasti aneh sekali.”

“Eh beneran. Coba dulu deh, kamu pasti ketagihan.” Kata saya.

Berkali-kali saya mencoba meyakinkan Li, bahwa pisang goreng itu enak rasanya, dan akan lebih enak lagi jika kita meminumnya dengan teh atau kopi hitam. Tetapi Li susah sekali diyakinkan, dia merasa bahwa pisang boleh direbus, dijus, atau dibuat eskrim, tapi tidak digoreng. Sayang sekali Li, kamu tidak tahu nikmatnya pisang goreng dan pisang susu keju, yang merupakan bentuk upgrade dari pisang goreng biasa.

Akhirnya karena saya sudah merasa sangat frustasi dengan Li, saya pun bilang kepadanya,

“Ya sudah, kalau kamu tidak percaya, aku beliin satu deh.”

“Di mana belinya memangnya?”

Saya tahu, tidak ada yang jualan pisang goreng di Birmingham. Kalau pun ada, orang itu pastilah saya yang sedang cari kerjaan.

“Ya memang tidak ada yang jual, tapi cobalah kamu mandiri, bikinlah sendiri.”

Dia tertawa.

“Ga ah, buat apa? Kita banyak tugas.”

“Buatnya Cuma lima belas menitan kok. Kamu bisa buat itu pas weekend.”

Dia mikir sejenak, “Ah, aku ga bisa buatnya.”

Saat itulah saya merasa berhasil meracuninya dengan pisang goreng. Dengan berbaik hati, saya pun menuliskan resep dan tutorial pisang goreng untuk Li. Saya jelaskan dengan rinci bagaimana memotong pisangnya, apinya harus sepanas apa, dan bagaimana ketika pisangnya mulai matang.

Li pun merasa ragu, tetapi akhirnya dia ambil juga catatan saya itu. Ah dasar kamu Li, sebetulnya kamu ingin, tetapi kamu gengsi bilangnya, ternyata kamu pun penasaran. Saya yakin dia akan memraktikkannya segera, tanpa harus menunggu hari minggu.

Beberapa hari setelah itu, tepatnya ketika ada kuliah di dalam kelas, dia mencak-mencak sambil tunjuk-tunjuk saya.

“Kamu bilang rasanya enak! Tapi kenapa pisangnya terasa kesat sekali. Tidak ada manis-manisnya!”

Saya tertawa melihat dia, tentu saja saya sudah tahu dia akan seperti itu ketika menulis resep untuknya. Oh Li, maafkan saya, saya lupa bilang bahwa pisang di Inggris tidak ada yang benar-benar cocok dibuat pisang goreng, kalau pun ada saya tidak tahu di mana belinya. Kalau pun ada, rasanya juga tidak akan sama. Semoga nanti kamu ada uang dan waktu untuk main ke Bandung, akan saya traktir kamu pisang goreng yang sesungguhnya.

Jayalah pisang goreng dan siapa saja yang pertama membuatnya, itu adalah penemuan yang sangat jenius, dan asli milik orang Indonesia. Dengan ingat itu, semoga perselisihan di mana saja bisa diredam oleh pisang goreng. Agama dan politik adalah fana, pisang goreng abadi.

2 Replies to “AGAMA DAN POLITIK ADALAH FANA, PISANG GORENG ABADI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *