JADILAH ANAK NAKAL DI SEKOLAH

Suatu hari Robert Kiyosaki pernah berujar, “’A’ students will work for ‘C’ students. ‘B’ students will work for the government. And ‘D’ students will be politicians.”

Menurut adagiumnya mbah Robert itu, anak-anak yang sewaktu sekolah nilainya ‘A’ akan bekerja untuk anak-anak yang nilainya ‘C’. Sementara anak-anak yang nilainya ‘B’ akan jadi PNS, dan anak-anak sableng yang nilainya ‘D’ itu akan jadi politisi yang mengatur semuanya.

Tampaknya, dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini, teori tersebut bisa dibilang cukup akurat. Coba kita gali lagi pengalaman kita bersama. Coba kita mengingat-ingat lagi kawan kita yang dulu sering juara kelas dan menjadi kesayangan guru, di manakah mereka sekarang? Saya tidak tahu dengan teman Anda, tapi beberapa teman saya yang dulu seperti itu sekarang kebanyakan adalah guru, dosen, atau karyawan di sebuah perusahaan besar. That’s a good thing of course.

Golongan kedua adalah anak yang tidak pintar tidak juga kurang, mereka orang-orang yang cenderung tidak menonjol dan selalu memilih keamanan. Keinginannya tidak muluk-muluk. Sekolah yang penting selesai. Kuliah yang penting lulus, setelah itu punya kerjaan apa saja yang penting menghasilkan. Cenderung punya nasib mulus, dan mereka yang biasanya sekarang sedang jadi PNS.

Golongan ketiga adalah mereka yang dahulu dianggap nakal dan pembuat onar. Orang-orang yang ketika dulu sering dikatai; “mau jadi apa kamu?” dan apa jawaban mereka? Yap betul, jawaban mereka adalah; “Jadi kaya raya.” Tentu saja tidak semua anak nakal berujung seperti ini, tetapi saya mengenal banyak kawan yang sekarang sudah sukses dengan bisnisnya atau karya-karyanya.

Image result for education kids rank
Sumber: google

Sementara golongan terakhir adalah mereka yang sering skip kuliah untuk ikut demonstrasi, mereka yang semasa SMA sudah baca buku-bukunya Marx dan Tolstoy, mereka yang pikirannya sering dianggap sesat. Mereka inilah yang punya banyak akal bulus, dan siap terjun untuk ikut pertarungan di dunia politik. Ya meskipun anak-anak yang nilainya ‘D’ juga banyak yang menjadi pengangguran.

Mungkin sebagian dari para pembaca yang budiman akan berpikir: anak nakal yang sekarang sukses kan itu hanya anomali. Satu dari sekian banyak. Tentu saja saya bisa katakan begini, apakah Anda sudah melakukan survei? Ataukah sudah ada penelitian tentang itu? jika tidak, maka kita sama saja. Selain itu, jika itu memang anomali, mengapa itu selalu terjadi, dan kita tidak perlu pungkiri itu selalu ada dari masa ke masa. Artinya itu bukan anomali, itu adalah sebuah pola.

 

Asal Muasal Sistem Pendidikan Kita

Baiklah, saya akan cerita sedikit. Pernahkah kita berpikir, bahwa nilai dan teknologi di masyarakat berubah dua puluh tahun sekali. Dulu koran populer, kini gadget mengalahkannya. Dulu brewok terlihat sangar, kini jadi gaya. Dulu delman itu asyik, sekarang kalah dari gojeg. Dan retail disikat online shop. Tapi ada yang sama sekali tidak berubah dari dahulu kala, itu adalah: SEKOLAH.

Image result for education old school
Sumber: google

Ya, sekolah sampai hari ini pemandangannya selalu sama; kelas, papan tulis, guru, anak-anak duduk di meja menghadap ke depan. Inilah sistem sekolah yang pertama dipakai di Inggris ketika revolusi industri terjadi pada sekitar abad ke-17. Itulah yang kita anut, dan kita pakai sampai saat ini, sampai saat ini lho! Kalau ingin lihat lebih lanjut boleh tonton ini.

Kalau mau diperlebar, tujuan sekolah dibuat ketika itu adalah untuk ‘melatih’ orang-orang yang siap terjun di industri pada saat itu. Artinya, orang-orang yang punya value paling tinggi adalah mereka yang bisa berhitung cepat, menulis dengan bagus, dan siap mendengarkan instruksi kapan saja. Mereka yang harus bisa menurut, dan dicintai oleh instrukturnya. Itulah siswa terbaik, itulah aset terbaik. Nilai tersebut bertahan hingga saat ini di sistem persekolahan kita.

Sementara anak-anak ‘nakal’ itu tidak punya tempat di sana, mereka yang punya cara berpikir lebih bebas bukanlah aset yang berharga bagi industri. Alasannya sederhana, mereka akan merusak sistem, karena mereka punya kehendak dan pemikirannya sendiri. Anak-anak ini punya hal yang tidak dimiliki golongan pertama, yaitu keberanian. Mereka berani memulai, berani berbeda, dan berani menentang apa yang sudah menjadi pakem. Jangan-jangan anak-anak baik yang dulu ada di sekolah itu bukanlah anak baik, melainkan anak yang takut. Takut dimarahi dan takut pula dipanggil guru BK.

Al hasil, anak-anak nakal ini memulai usahanya sendiri. Mereka tidak terlalu banyak berpikir, karena tahu itu percuma. Membuat rencana sambil jalan saja, yang penting mulai dulu. Anak-anak ini terbiasa dengan kegagalan dan perkataan buruk dari orang lain atas mereka. Tapi itu tidak membuat mereka jera, mereka bandel, dan terus mencoba. Tidak mengerti apa itu trauma kegagalan, karena kegagalan memang sudah melekat akrab dengan mereka. Intinya, mereka terbiasa bersiap menghadapi apa yang belum disiapkan.

Wahai pembaca yang budiman, tolonglah jangan menganggap saya sedang memprovokasi anak-anak Indonesia menjadi nakal. Karena tentu saja banyak sekali anak baik yang sekarang juga sukses dan punya usaha atau karya-karya lainnya. Saya hanya sedang bercerita, bahwa itulah sistem yang sedang berlangsung di Indonesia kita ini. Begitulah sekolah dikondisikan, begitulah anak-anak terbentuk dan paradigma di masyarakat tercipta.

Saya pun kini bertanya-tanya di dalam hati, termasuk anak yang manakah saya? Dan apakah saya akan menjadi bagian dari sistem yang tidak pernah berakhir. Saya harap saya bisa sadar dan keluar, kemudian berusaha untuk tidak terbawa ke dalam sistem itu, melainkan melihat dengan pandangan yang jauh lebih luas. Semoga kamu semua pun begitu.

 

 

4 Replies to “JADILAH ANAK NAKAL DI SEKOLAH”

  1. Saya dulu termasuk anak yang sering kesiangan, gaul dengan kroni-kroni garis kiri, beberapa kali meresahkan BK karena pengaruh doktrin trhdp orang-orang cukup dibilang meyakinkan, menjadi ketua murid yang diktator dan semena-mena, tapi setiap ke’nakalan’ saya selalu dibalas dengan karya, dan saya ingat satu perkataan guru saya seperti ini “Masa anak begundal begini bisa juara buat karya tulis”.
    Eniwey itulah jaman-jaman di sekolah, saya mencari pengalaman hidup bukan semata mencari ilmu dalam buku-buku.
    Tulisan ini jadi membuka kenangan masa lalu. Haha

  2. Sangat inspiratif kang, mantaps.
    Tapi da bener temen saya yg nakal sekarang kok malah jadi pengusaha dan karya, yang dulu ketika smk belum bisa apa” sekarang dgn ketekunannya malah jadi primadona dan jadi bahan pembicaraan di group angkatan. Apakah memang sebuah pola yang berkelanjutan? Atau hanya ketidakkuatan akal manusia atas kehendak sang ilahi? Ahhaa.

Leave a Reply to Gelar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *