ARGUMENTUM

Suatu hari Cak Nun pernah mengatakan bahwa “Menulis bukanlah sebuah pekerjaan, menulis adalah salah satu bentuk ekspresi keberadaan manusia.”

Sudah sejak lama saya berhenti menulis dengan tujuan untuk menginspirasi orang lain. Sudah sejak lama juga saya berhenti menulis karena terpengaruh oleh hal-hal di luar dari diri saya.

Akibatnya, saya menulis sesuka-sukanya saya, menulis tanpa mengindahkan kerangka berpikir dan tata bahasa yang ada. Menukar-nukar konjungsi dan kata keterangan, atau menukar posisi objek kepada subjek bahkan menghilangkannya. Setelah saya melakukan itu, tidak ada yang peduli juga, karena memang kebanyakan tulisan saya tidak dipublikasikan. Saya melakukan itu hampir satu tahun dan sangat jarang sekali mengunggah tulisan-tulisan itu ke media sosial.

Meski begitu, perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Saya seolah mengalami ekstasi setiap saya menulis kemudian menyembunyikannya. Saya merasa seperti baru saja melahirkan anak rohani yang anak-anak itu tidak perlu saya pamerkan di instagram atau pun storynya. Saya merasa tidak ada hubungan dengan protes Tere Liye atas pajak para penulis, karena memang saya tidak sedang menjual tulisan saya.

Akan tetapi, segala sesuatu memiliki kodratnya sendiri-sendiri. Makanan hadir untuk dimakan, sepatu hadir untuk diinjak, kentut pun ada untuk dikeluarkan baik di depan khalayak atau di kala sunyi. Begitu juga tulisan, hak dari sebuah tulisan adalah untuk dibaca. Ketika sebuah tulisan dibaca seseorang maka ia akan hidup. Baik yang menulisnya Dewi Lestari atau pun Seno Gumira Ajidarma, atau bahkan seorang mahasiswa tingkat satu yang baru belajar menulis, sebuah tulisan akan hidup ketika dibaca.

Yang disebut menulis bukan hanya kegiatan membubuhkan kata demi kata, kalimat demi kalimat di dalam microsoft word. Kegiatan pengamatan, penghayatan, dan pemberian makna terhadap sebuah peristiwa adalah bagian dari kegiatan menulis. Ketika peristiwa itu diolah di alam pikir, diendapkan, dituangkan ke dalam kata-kata, ia mengalami proses transformasi yang tidak sederhana.

Ketika seseorang membaca sebuah tulisan, ia tidak sedang membaca sebuah kertas dan tinta. Akan tetapi ia sedang melihat sebuah dunia, sebuah dunia baru yang diberikan oleh si penulis tanpa tanggung jawab. Lebih dari itu, dunia itu akan tinggal di dalam diri pembaca apabila cukup layak untuk dibiarkan tinggal. Namun dunia itu juga bisa menghilang dengan sangat cepat, jika ia tak cukup kuat untuk masuk ke dalam diri pembaca.

Dunia yang tinggal di dalam diri pembaca akan mengubah si pembaca untuk menemukan perasaan, nilai, dan pengetahuan baru di dalam dirinya, kemudian membentuk sikap dan perbuatan orang itu. Penembak John Lennon kabarnya membaca buku “Catcher in the Rye” yang melegenda itu sebelum membunuh sang pelantun “imagine”. Seno Gumira pernah melakukan perjalanan mengembara ketika ia SMP akibat membaca buku petualangan Tom Sawyer.

Karena itulah, menulis bukan hanya menceritakan, menulis itu menawarkan satu dunia baru untuk ditinggali dan diyakini nilainya.

Atas pertimbangan panjang lebar itulah saya merasa sudah waktunya saya mengunggah lagi tulisan-tulisan saya. Tidak atas dasar apa pun, lebih karena dasar ingin tanpa ada dorongan yang lain. Bahkan boleh dikatakan saya akan mengunggah tulisan saya karena ‘iseng’, supaya saya tidak berpengharapan apa pun terhadap apa yang tulis. Juga agar saya tidak perlu kecewa jika ada yang mengatakan tulisan saya sampah.

Maka dari itu, pembaca yang budiman, izinkan saya untuk kembali menulis di sini. Menulis apa saja yang saya inginkan. Dan saya berharap di ujung hari saya tidak berakhir sebagai orang yang naif. Berakhir sebagai orang yang ketika malam bertanya, “Apakah tulisan saya menggapai perasaan para pembaca? Apakah saya hadir dan hidup di dalam diri setiap para pembaca?”

 

 

3 Replies to “ARGUMENTUM”

  1. Lar.. Nyieun novel ttg patah hati , kegelisahan hidup, proses pencarian jati diri.. Anu mngharu biru. Lakuu pasti da 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *