Jabang Bayi

Bagi bayi-bayi dalam kandungan yang tidak sempat terlahirkan, mungkin itu adalah nasib terbaik yang mereka alami karena mereka tidak perlu gedebugan di dunia. Tetapi bagi ibu yang mengandungnya, ia seperti kehilangan sebagian nyawanya sendiri.

Nafsu Menginjak Sandal

Setiap melaksanakan tarawih, setiap orang selalu berusaha menjadi lebih khusyuk di dalam salatnya. Sebelum salat, biasanya seorang ustad akan memberikan tausiyah mengenai pentingnya mengendalikan hawa nafsu ketika bulan Ramadan. Tidak seperti khutbah Jum’at yang menjadi obat tidur bagi mereka yang insomnia, tausiyah saat tarawih biasanya lebih didengarkan karena durasinya lebih pendek.

Seyogianya, sebagai umat muslim yang baik, kita mesti meresapi apa yang disampaikan oleh ustad dan kemudian mengamalkannya, termasuk saya. Tetapi mungkin saya pun ada bodohnya karena mengira semua orang ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh ustad. Ketika keluar dari masjid saya merasa saya harus mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadi manusia egois. Termasuk ketika hendak mengambil sandal, sandal yang berantakan di depan teras masjid itu memang tidak ditata, tetapi semua sandal itu pasti ada yang memiliki.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk mengambil sandal saya tanpa menginjak sandal yang lain. Karena saking hati-hatinya saya tidak bisa bergerak sembarangan, akan tetapi, sekonyong-konyong orang-orang di belakang saya langsung menceburkan kakinya ke dalam lautan sandal tanpa tedeng aling-aling. Otomatis, sandal yang sejak awal tidak rapi itu sekarang menjadi berantakan tidak karuan.

Saya yang berhati-hati agar tidak menginjak sandal orang ini serasa sedang dikhianati oleh orang-orang yang berusaha saya jaga sandalnya. Sejurus kemudian, saya melihat swallow hijau saya pun tidak luput dari injakan kaki-kaki biadab itu, beberapa dari mereka sudah memakai sandal untuk menginjak sandal saya. Manusia benar-benar makhluk yang egois, mereka ingin mengambil sandal mereka sendiri dengan tega menginjak dan menyingkirkan sandal milik orang lain. Sejak hari itu, saya selalu membungkus sandal swallow saya dengan kresek yang saya bawa dari rumah.

Pertanyaan Yang Hanya Diajukan Guru TK

Entah bagaimana, saya kebetulan menjadi seorang pemateri di sebuah kampus di jurusan pendidikan PAUD. Kalau kamu tidak tahu itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini, atau lebih mudahnya, itu adalah jurusan pendidikan guru TK. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri dan mental untuk menghadapi calon-calon guru PAUD yang manis dan keibuan, tetapi yang tidak saya tahu ternyata kelas yang saya sambangi adalah kelas karyawan. Walhasil, yang saya hadapi adalah ibu-ibu betulan.

Mereka adalah guru-guru PAUD yang kuliah lagi untuk mendapatkan ijazah yang resmi sebagai guru, beberapa di antara mereka paruh baya, sehingga membuat saya tidak nyaman awalnya. Bukan karena mereka sudah tidak muda, tetapi karena saya merasa saya terlalu muda untuk menguliahi mereka. Secara pengalaman tentulah saya kalah jauh, untungnya tema hari itu cukup sederhana dan saya yakin sedikit lebih jago dari mereka.

Intinya panitia ingin saya presentasi soal literasi anak dan komunitas yang saya dirikan bersama kawan-kawan. Saya kira, ibu-ibu yang kuliah ini akan mengantuk ketika saya menjelaskan, di luar dugaan, ternyata bersama ibu-ibu itu menjadi hari yang menyenangkan. Mereka semua antusias dan kelihatannya agak terpukau dengan kemampuan membual saya. Biasalah, sepik sepik sedikit.

Sesudah saya cerita ngalor ngidul, tiba waktunya Q and A, tanya jawab suka-suka. Pertanyaannya aneh-aneh dan kelihatannya saya butuh kontemplasi untuk menjawab itu semua.

#1

Bagaimana ya caranya supaya memberi tahu orang tua bahwa anak TK itu ga harus bisa calistung dulu?

Bilang sama orang tuanya, dulu juga mereka susah belajar calistung, sekarang seenaknya nyuruh-nyuruh anaknya.

#2

Bagaimana ya supaya anak saya bisa tumbuh rasa percaya dirinya?

Duh, saya belum punya anak bu.

#3

Apa sebab di TK tempat saya ngajar muridnya sedikit terus?

Err…..

#4

Anak saya agak cuek soal pelajarannya di sekolah, harus saya biarin atau bagaimana ya?

Percayalah bu, anak seperti itu biasanya nanti jadi orang kaya.

Semua jawaban dicetak miring itu tentu saja merupakan jawaban saya di dalam hati, sebisa mungkin saya menjawab pertanyaan mereka melalui pengalaman dan hasil penelitian. Bukan karena ingin keren, lebih supaya mereka merasa saya ini tidak ngasal. Tetapi, saya merasa itu semua adalah pertanyaan yang harus diajukan seorang guru TK, bagi guru TK tidak ada yang lebih penting dari memikirkan anak-anak. Di atas semua itu, mereka juga harus tetap menjadi seperti anak-anak, penuh kejutan dan senang bermain. Karena akan membosankan jika seorang anak ketika ia dewasa seseorang bertanya kepadanya, “Apa keahlianmu?”

Ia jawab, “Mengerjakan soal pelajaran.”

Saya merasa senang hadir bersama-sama mereka, jaya selalu para guru TK! Panggung itu bukan hanya milik Kak Seto seorang. Terakhir, sebelum saya pulang mereka menyanyikan lagu,

“Terima kasih bapak….Terima kasih bapak….Terima kasih kami ucapkan……dst.”

Samsara

Ki Sapu Jagad sedang duduk bersama murid-muridnya, mereka sedang berkemah di pinggir sungai. Langit bersih dan sunyi, cahaya bulan terpantul di riak yang tenang, mereka sedang menikmati api unggun seadanya sambil membakar ikan. Salah seorang murid yang bernama Wulung bertanya, “wahai guru, mengapa manusia menderita? Sejak awal, kami tidak pernah meminta untuk dilahirkan.”

Ki Sapu Jagad memandangnya, kemudian mengalihkan pandangan lagi ke api unggun dan mulai membolak-balikan beberapa kayu bakar. Setelah itu ia menatap Wulung kembali, “Siapa bilang kita tidak meminta untuk dilahirkan, apa kau punya pengetahuan yang pasti bahwa kita tidak pernah memintanya?”

Wulung terdiam, berpikir sebentar kemudian berkata lagi, “tetapi kita juga tidak punya kepastian bahwa kita memintanya.”

Ki Sapu Jagad memasukkan kembali kayu bakar ke dalam api, “itulah mengapa aku membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan lagi. Apa kau tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain kisanak?”

“Seperti apa misalnya guru?”

“Misalnya, bagaimana kalau sebelum kehidupan yang kita kenal ini, kita pernah hidup di zaman yang lain di dunia yang lain, kemudian bersepakat untuk lahir ke dunia bersama-sama. Atau bagaimana jika kita dahulu hidup sebagai orang lain, kemudian terlahir lagi tanpa ingatan yang utuh atas diri kita di masa lalu. Atau jangan-jangan sebetulnya adanya kita di dunia ini hanyalah kebetulan belaka, kita lahir dari ibu kita, mengantre menunggu ajal menjemput.”

“Aku bingung guru, sebetulnya apa yang ingin guru katakan.”

“Bukan apa-apa kisanak, yang jelas, semua yang kita anggap pengetahuan di dunia ini mungkin hanya persangkaan masing-masing yang belum lengkap. Kau boleh menganggap kehidupan ini bukanlah yang kau hendaki, tetapi penderitaan hanya ada di dalam pikiran, di luar itu, kehidupan memang terjadi sesuai yang alam ingini untuk mencapai keseimbangan.”

Ikan sudah matang, beberapa murid yang tidak ikut berdiskusi mulai mengambil satu ekor masing-masing dan meniup-niupnya karena terlalu panas.

“Kalau begitu, apakah suatu saat penderitaanku akan berakhir demi sebuah keseimbangan guru?”

“Itu lah permasalahanmu kisanak, kau selalu berpengharapan, kau berkeinginan terhadap sesuatu yang belum atau bahkan tidak terjadi. Kau tidak hidup pada saat ini, pada masa ini, pada tempat ini, pada orang-orang ini. Selamanya kau harus sadar pada apa yang sedang kau lakukan, pada apa yang sedang kau rasakan. Jika tidak, sang Kala akan menggerogotimu tanpa peringatan, hingga kau akhirnya mati dalam kebingungan.”

Wulung hendak memberikan pertanyaan lanjutan tetapi Ki Sapu Jagad menyela sambil mengangkat tangan, “Makan dulu ikanmu, itu sudah terlalu matang.”

 

Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean

Apa kamu pernah melihat seseorang yang sebetulnya inkompeten tetapi punya rasa percaya diri yang sangat super. Atau melihat seseorang yang tidak punya pengetahuan tentang suatu hal, tapi bicara paling vokal dan berani tentang hal tersebut? Yap, kita pasti kenal seseorang seperti itu di lingkaran pergaulan kita, dan kita juga sepakat bahwa orang-orang semacam ini adalah Continue reading “Efek Dunning-Kruger, Supaya Kita Gak Kepedean”